Setapak Langkah – 16 Juli 2026 | Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina tidak hanya menyuguhkan aksi-aksi teknis di lapangan, tetapi juga memanas akibat insiden fisik yang melibatkan Jude Bellingham. Pada menit-menit akhir babak pertama, Bellingham menampar pemain Argentina setelah menyaksikan selebrasi yang dianggap provokatif.
Selebrasi tersebut terjadi ketika pemain Argentina berusaha meniru gerakan gol lawan, namun gerakannya dianggap menyinggung pemain Inggris. Reaksi cepat Bellingham memicu peluit panjang dari wasit, menandakan adanya pelanggaran serius.
Berikut rangkaian kejadian utama dalam pertandingan:
- 10': Inggris membuka keunggulan lewat gol penalti dari Harry Kane.
- 27': Argentina menyamakan kedudukan melalui gol dari Lionel Messi.
- 44': Bellingham menampar pemain Argentina setelah selebrasi provokatif, wasit mengeluarkan kartu kuning kepada Bellingham.
- 46': Peluit panjang dibunyikan, pertandingan dihentikan sementara untuk menenangkan kedua tim.
- 70': Kedua tim kembali bermain, namun intensitas fisik tetap tinggi.
- 90+3': Inggris mengamankan kemenangan 2-1 dengan gol tambahan dari Marcus Rashford.
Insiden tersebut menimbulkan protes dari kedua kubu. Tim Argentina mengajukan keluhan resmi kepada FIFA, menuntut tindakan disipliner terhadap Bellingham. Sementara itu, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) menyatakan dukungan kepada pemainnya, menyebut bahwa tindakan tersebut merupakan reaksi spontan terhadap provokasi.
Pengamat sepak bola menilai bahwa insiden ini mencerminkan menurunnya sportivitas di level tertinggi kompetisi. “Kita berharap federasi dapat memberikan sanksi yang proporsional, namun juga mengedukasi pemain untuk mengendalikan emosi di lapangan,” ujar seorang pakar sport di sebuah talk show.
Jika FIFA memutuskan memberi kartu merah atau larangan bermain, Bellingham berpotensi absen pada pertandingan final melawan tim lain. Dampak ini tentu akan memengaruhi strategi Inggris dalam meraih gelar juara.
Selain sanksi individu, FIFA juga dijadwalkan mengkaji kembali regulasi terkait selebrasi provokatif, guna mencegah terulangnya insiden serupa di turnamen berikutnya.