Setapak Langkah – 30 Maret 2026 | Washington melaporkan persiapan intensif untuk melancarkan operasi darat di Iran, mengerahkan ribuan pasukan marinir dan infanteri konvensional. Operasi yang diprediksi akan berlangsung antara beberapa minggu hingga berbulan-bulan ini bertujuan merebut titik‑titik strategis di pesisir Teluk Persia, termasuk pulau‑pulau yang dikuasai Tehran serta fasilitas minyak dan potensi uranium yang diperkaya.
Skala Penempatan Pasukan
Menurut laporan Pentagon, sekitar 3.500 tentara dan marinir AS telah tiba di kawasan Timur Tengah pada 29 Maret 2026, termasuk unit yang berangkat dari kapal perang USS Tripoli. Sebagian besar pasukan tersebut merupakan marinir yang akan menjadi garda terdepan dalam operasi laut‑darat, sementara tambahan sekitar 10.000 prajurit terlatih dipersiapkan untuk pengerahan lebih lanjut.
Tujuan Strategis Operasi
Para analis militer menilai bahwa fokus utama AS adalah mengamankan jalur pengapalan minyak yang melintasi Selat Hormuz, yang menyumbang sekitar satu perempat pasokan minyak dunia. Penguasaan pulau‑pulau seperti Kharg dan pulau‑pulau kecil di sekitar Selat Hormuz dapat dijadikan titik tawar menawar untuk membuka kembali aliran minyak bila terjadi penyumbatan. Selain itu, laporan The Guardian menyebut kemungkinan penyitaan fasilitas pengolahan uranium Iran sebagai bagian dari misi, dengan harapan menekan program nuklir Tehran.
Respon Iran
Iran menanggapi ancaman tersebut dengan pernyataan keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan kesiapan Teheran untuk “membakar” pasukan AS yang memasuki wilayahnya. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam akan menargetkan universitas‑universitas AS di Timur Tengah sebagai balasan atas serangan potensial.
Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, juru bicara Markas Besar Khatam al‑Anbia, mengibaratkan pasukan AS sebagai “makanan lezat bagi hiu‑hiu di Teluk Persia”. Ia menambahkan bahwa Iran telah memperkuat pertahanan di perbatasan barat daya yang berdekatan dengan Irak serta di wilayah tenggara dekat Selat Hormuz, siap menanggapi setiap langkah invasi darat.
Dimensi Politik dan Keuangan
Operasi ini berada di bawah sorotan politik domestik AS. Presiden Donald Trump dikabarkan masih ragu untuk memberikan persetujuan akhir, meski Pentagon telah mengajukan permintaan tambahan anggaran sebesar USD 200 miliar untuk mendanai konflik yang diperkirakan dapat berlangsung lama. Permintaan tersebut masih menunggu persetujuan Kongres, sementara anggaran tahunan Pentagon mencapai satu triliun dolar.
Sejumlah media internasional, termasuk Washington Post dan Anadolu Agency, menekankan bahwa operasi darat masih berada pada tahap “opsi maksimal” dan belum menjadi keputusan definitif. Namun, keberadaan pasukan di wilayah tersebut menandakan bahwa AS bersiap menghadapi skenario terburuk jika serangan udara atau sanksi ekonomi tidak berhasil menghentikan program nuklir atau aktivitas militer Iran.
Dampak Regional dan Global
Jika operasi darat terlaksana, konsekuensi geopolitik dapat meluas ke seluruh kawasan Teluk Persia. Negara‑negara lain seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara‑negara anggota GCC kemungkinan akan mendukung atau menolak intervensi AS, tergantung pada kepentingan energi mereka. Selain itu, pasar minyak dunia diperkirakan akan mengalami volatilitas tinggi, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama bagi ribuan barrel minyak setiap harinya.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa gangguan pada jalur pengiriman minyak dapat memicu lonjakan harga minyak mentah, mempengaruhi inflasi global dan menambah beban pada negara‑negara importir energi. Di sisi lain, tindakan militer AS dapat memicu eskalasi konflik yang melibatkan kelompok‑kelompok milisi pro‑Iran di Lebanon, Suriah, dan Irak, memperluas dimensi konflik menjadi lebih kompleks.
Dengan ketegangan yang terus meningkat, dunia menunggu keputusan akhir dari Gedung Putih dan Kongres Amerika Serikat. Apakah operasi darat akan menjadi pilihan terakhir atau tetap menjadi ancaman belaka, implikasinya bagi keamanan regional, pasokan energi, dan stabilitas politik global sudah jelas sangat signifikan.
Kesimpulannya, persiapan operasi darat AS di Iran menandai titik kritis dalam hubungan bilateral kedua negara. Sementara Amerika Serikat menyiapkan pasukan dan logistik untuk merebut jalur minyak strategis serta fasilitas nuklir, Iran menegaskan kesiapan pertahanan yang tegas. Dinamika politik dalam negeri AS, termasuk sikap Presiden Trump dan persetujuan Kongres, akan menentukan apakah ancaman ini beralih menjadi aksi militer nyata atau tetap berada di ranah diplomasi dan tekanan ekonomi.