Setapak Langkah – 24 Mei 2026 | Komunitas Orang Rimba, suku nomaden yang telah lama hidup selaras dengan hutan Kalimantan, kini menghadapi tekanan lingkungan yang semakin intens. Deforestasi, kebakaran hutan, serta proyek pembangunan infrastruktur mengubah lanskap tempat mereka mencari makanan, bahan bakar, dan tempat berlindung.
Perubahan Pola Hidup
Akibat berkurangnya kawasan hutan asli, beberapa kelompok Orang Rimba mulai mengalihkan aktivitas mereka dari berburu‑memanen tradisional ke kegiatan yang lebih bersifat agraris. Contohnya, keluarga Tengganai Basemen yang terlihat membelah buah pinang di zona pemanfaatan menunjukkan bagaimana mereka memanfaatkan tanaman perkebunan sebagai sumber pangan tambahan.
Strategi Adaptasi
- Pengembangan pertanian kecil‑kecil: Menanam singkong, ubi, dan sayuran di lahan terbuka untuk mengurangi ketergantungan pada hutan.
- Pengolahan hasil hutan non‑kayu: Memanen dan menjual buah pinang, kelapa, serta rotan untuk memperoleh pendapatan.
- Kerjasama dengan LSM dan pemerintah: Mengikuti pelatihan tentang teknik bertani berkelanjutan dan manajemen sumber daya air.
- Penerapan teknologi sederhana: Menggunakan alat pemotong bambu dan pisau tradisional yang dimodifikasi untuk meningkatkan efisiensi kerja.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Walaupun adaptasi ini membantu kelangsungan hidup, beberapa hambatan tetap muncul. Hak atas tanah yang belum diakui secara resmi membuat komunitas rentan terhadap konflik dengan perusahaan perkebunan. Selain itu, perubahan pola diet dapat memengaruhi kesehatan tradisional mereka, sementara penyesuaian budaya menimbulkan pertanyaan tentang identitas suku.
Prospek Kedepan
Keberlanjutan adaptasi Orang Rimba sangat bergantung pada dukungan kebijakan yang menghormati hak adat dan memberikan akses kepada lahan yang layak. Pendidikan lingkungan dan program pemberdayaan ekonomi yang melibatkan suku secara langsung dapat memperkuat ketahanan mereka dalam menghadapi perubahan iklim dan tekanan pembangunan.