Setapak Langkah – 18 Juni 2026 | Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap bahwa sekitar 20% generasi Z di Indonesia sudah terjun ke dunia investasi, namun sebagian besar melakukannya tanpa pemahaman yang memadai tentang risiko yang melekat.
Latar Belakang
Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh di era digital dengan akses mudah ke platform investasi daring. Kemudahan ini mendorong minat mereka untuk menanamkan uang pada saham, reksa dana, atau aset kripto.
Data dan Temuan OJK
- 1 dari 5 responden Gen Z pernah melakukan transaksi investasi.
- Hanya sekitar 30% yang mengaku memahami konsep risiko investasi.
- Faktor FOMO (Fear Of Missing Out) menjadi motivasi utama bagi 45% responden.
Penyebab Fenomena FOMO
Beberapa faktor yang memperparah rasa takut ketinggalan antara lain:
- Berita keuangan yang viral di media sosial.
- Testimoni cepat kaya yang tidak realistis.
- Kurangnya edukasi formal mengenai pasar modal.
Risiko Investasi Tanpa Pengetahuan
Investasi tanpa pemahaman dapat berujung pada:
- Kehilangan modal akibat volatilitas tinggi.
- Terjebak dalam skema penipuan atau pump-and-dump.
- Penurunan kepercayaan diri dalam mengelola keuangan pribadi.
Upaya Peningkatan Literasi Finansial
Pemerintah dan lembaga keuangan telah meluncurkan program edukasi, antara lain:
- Workshop daring tentang dasar-dasar investasi.
- Kurikulum keuangan di sekolah menengah.
- Kolaborasi dengan influencer yang kredibel untuk menyebarkan informasi yang tepat.
Rekomendasi bagi Gen Z
Untuk mengurangi dampak FOMO dan meningkatkan keamanan investasi, para pemuda disarankan untuk:
- Mengikuti pelatihan atau kursus singkat tentang pasar modal.
- Memulai dengan investasi kecil dan diversifikasi portofolio.
- Selalu memeriksa legalitas platform sebelum bertransaksi.
- Menetapkan tujuan keuangan jangka panjang, bukan hanya mengejar tren.
Dengan meningkatkan literasi finansial, generasi Z dapat memanfaatkan peluang investasi secara bijak tanpa terjebak dalam keputusan impulsif yang berisiko.