Setapak Langkah – 09 Agustus 2026 | Satu hari setelah penandatanganan pakta pertahanan yang disebut \”Aliansi Mekkah\” antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki, kelompok pemberontak Houthi melancarkan serangkaian serangan kembali ke wilayah Saudi. Serangan tersebut menargetkan fasilitas industri minyak milik Saudi Aramco, termasuk instalasi pengolahan dan jaringan pipa yang menjadi tulang punggung produksi minyak negara itu.
Aliansi Mekkah, yang ditandatangani di kota suci Mekkah, bertujuan memperkuat koordinasi pertahanan di wilayah Teluk Persia serta menanggulangi pengaruh Iran yang dianggap mendukung Houthi. Pakta ini menandai langkah strategis baru bagi Saudi Arabia dalam memperluas jaringan sekutunya, terutama dengan melibatkan Pakistan yang memiliki pengalaman operasi militer di kawasan dan Turki yang baru-baru ini meningkatkan kehadirannya di Timur Tengah.
Serangan Houthi ini dipandang sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa tekanan terhadap koalisi Saudi‑Pakistan‑Turki belum cukup memengaruhi kemampuan mereka. Kelompok tersebut menegaskan kembali komitmen mereka dalam melanjutkan perang melawan apa yang mereka sebut sebagai intervensi asing di Yaman.
Pemerintah Saudi menanggapi dengan meningkatkan kesiapan pertahanan udara dan menyatakan akan meningkatkan operasi balasan terhadap sasaran Houthi di wilayah perbatasan Yaman. Di sisi lain, pernyataan resmi Turki menekankan solidaritasnya dengan Saudi dan menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap keamanan regional akan ditanggapi secara kolektif.
Para pengamat menilai bahwa eskalasi ini dapat memperpanjang konflik yang sudah berlangsung lebih dari delapan tahun, sekaligus menambah tekanan pada pasar energi global. Jika serangan terhadap fasilitas Aramco berlanjut, kemungkinan harga minyak dunia akan mengalami volatilitas lebih tinggi.