Setapak Langkah – 05 Agustus 2026 | Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua tahun 2026 akan melambat di bawah angka 5 persen. Proyeksi ini menandai penurunan signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal pertama yang masih berada di kisaran 5,2-5,4 persen.
Penurunan tersebut dipicu oleh beberapa faktor struktural, di antaranya tekanan fiskal yang semakin kuat. LPEM FEB UI mencatat bahwa defisit anggaran pada kuartal pertama 2026 telah melebihi target sebesar 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara beban utang pemerintah terus meningkat, menekan ruang fiskal untuk stimulus dan investasi publik.
Faktor-faktor utama yang memengaruhi proyeksi pertumbuhan
- Defisit Anggaran Tinggi: Defisit yang melebihi batas toleransi menurunkan kepercayaan investor dan meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
- Utang Publik: Rasio utang terhadap PDB diperkirakan mencapai 45 persen pada akhir 2026, mempersempit ruang manuver kebijakan fiskal.
- Pengeluaran Pemerintah: Program infrastruktur besar masih dalam fase perencanaan, sehingga belum memberikan dampak signifikan pada output ekonomi.
- Inflasi dan Kebijakan Moneter: Tekanan inflasi yang masih berada di atas target Bank Indonesia memaksa otoritas moneter untuk mempertahankan suku bunga yang relatif tinggi, yang pada gilirannya menurunkan konsumsi rumah tangga.
Data Kunci Fiskal Kuartal I 2026
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Defisit Anggaran | 2,4% PDB |
| Rasio Utang Publik | 44,8% PDB |
| Pengeluaran Infrastruktur | Rp 180 triliun |
| Inflasi YoY | 4,9% |
Para ekonom memperingatkan bahwa jika tekanan fiskal tidak diredam, risiko perlambatan ekonomi dapat meluas ke sektor manufaktur dan jasa, yang merupakan kontributor utama PDB. Sementara itu, pemerintah dijadwalkan akan mengajukan paket penyesuaian anggaran pada rapat kabinet mendatang, dengan harapan dapat menurunkan defisit tanpa mengorbankan investasi strategis.
Pengamat menilai bahwa keberhasilan kebijakan penyesuaian fiskal akan sangat menentukan apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat kembali menembus ambang batas 5 persen pada kuartal ketiga dan keempat tahun 2026.