Setapak Langkah – 01 Agustus 2026 | World Gold Council melaporkan bahwa investasi emas di Indonesia mengalami lonjakan signifikan pada kuartal kedua tahun 2026. Volume penjualan mencapai 15 ton, meningkat 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menandakan semakin kuatnya minat masyarakat Indonesia terhadap aset logam mulia sebagai sarana pelindung nilai.
Berbagai faktor mendorong pertumbuhan tersebut, antara lain ketidakpastian ekonomi global, tekanan inflasi yang terus meningkat, serta nilai tukar rupiah yang berfluktuasi. Investor ritel maupun institusi memandang emas sebagai “safe haven” yang dapat mengurangi risiko portofolio mereka.
| Kuartal | Volume Investasi (ton) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Q2 2025 | 10,7 | – |
| Q2 2026 | 15,0 | +40 % |
Selain faktor makroekonomi, kebijakan pemerintah yang mempermudah akses pembelian emas melalui platform digital juga berkontribusi. Program tabungan emas yang terintegrasi dengan layanan perbankan memperluas jangkauan produk emas kepada lapisan masyarakat yang lebih luas.
Para analis memperkirakan tren ini akan berlanjut selama tahun 2026, terutama jika inflasi tetap berada pada level tinggi dan nilai tukar rupiah tetap lemah. Namun, potensi kenaikan suku bunga global dapat menurunkan daya tarik emas dalam jangka menengah, karena alternatif investasi berbasis obligasi menjadi lebih menarik.
Secara keseluruhan, peningkatan investasi emas mencerminkan perubahan perilaku keuangan masyarakat Indonesia yang kini lebih mengutamakan diversifikasi aset dan perlindungan nilai. Pelaku pasar diharapkan terus memantau dinamika ekonomi global serta kebijakan domestik untuk mengambil keputusan yang tepat.