Setapak Langkah – 20 Juli 2026 | Raksasa energi Amerika Serikat menandatangani kesepakatan bernilai sekitar US$60 miliar (setara Rp1,074 triliun) dengan pemerintah Irak untuk membangun jaringan pipa minyak baru yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman utama.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, selama ini menjadi titik kritis bagi hampir setengah produksi minyak dunia. Gangguan di wilayah ini dapat menimbulkan fluktuasi harga minyak yang signifikan serta menimbulkan ketegangan geopolitik.
Jalur pipa yang direncanakan akan membentang dari ladang minyak di wilayah utara Irak hingga pelabuhan di pantai Teluk Persia, memungkinkan aliran minyak langsung ke pasar internasional tanpa melewati Selat Hormuz. Proyek ini mencakup beberapa fase utama:
- Pembangunan jalur utama sepanjang sekitar 1.200 kilometer.
- Pemasangan fasilitas pompa dan kontrol otomatis berteknologi tinggi.
- Pengembangan terminal ekspor di pelabuhan strategis.
Berikut perkiraan alokasi dana proyek:
| Komponen | Biaya (Rp) |
|---|---|
| Konstruksi pipa | Rp 600 triliun |
| Fasilitas pompa dan kontrol | Rp 250 triliun |
| Terminal ekspor | Rp 124 triliun |
Selain meningkatkan keamanan pasokan energi, proyek ini diprediksi akan menciptakan ribuan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan fiskal Irak, dan memperkuat posisi Amerika dalam mengamankan jalur energi global. Namun, tantangan teknis seperti kondisi geografis yang berat serta potensi resistensi politik dari negara-negara yang mengandalkan pendapatan dari lalu lintas di Selat Hormuz tetap menjadi faktor yang harus dikelola.
Jika berhasil, jalur pipa ini dapat menjadi contoh infrastruktur energi lintas batas yang mengurangi risiko geopolitik dan mendukung stabilitas pasar minyak dunia.