Setapak Langkah – 13 Juli 2026 | Ketegangan yang meningkat di Selat Hormuz, jalur penyedia energi utama dunia, memicu lonjakan signifikan pada harga minyak global.
Konflik terbaru antara Iran dan Amerika Serikat, yang melibatkan ancaman penangkapan kapal tanker serta latihan militer di wilayah tersebut, menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar.
Akibatnya, harga minyak mentah Brent naik sekitar 6% menjadi $85 per barrel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai $80 per barrel. Perubahan ini tercermin dalam tabel berikut:
| Komoditas | Harga Sebelumnya | Harga Setelah Ketegangan |
|---|---|---|
| Brent | $80 | $85 |
| WTI | $75 | $80 |
Lonjakan harga ini memberi tekanan pada biaya transportasi, mempercepat inflasi di negara‑negara pengimpor, dan menurunkan nilai tukar mata uang di beberapa pasar berkembang.
Organisasi produsen minyak (OPEC) dan sekutunya menyatakan kesiapan menstabilkan pasokan, sementara pemerintah Amerika Serikat mengumumkan peningkatan kehadiran militer untuk menjamin keamanan jalur laut.
Para analis memperkirakan tiga skenario utama: (1) de‑eskalasi cepat yang memungkinkan harga kembali stabil, (2) konflik berlarut‑lurus yang menahan harga tinggi selama beberapa minggu, atau (3) gangguan berkelanjutan yang memaksa pasar mencari alternatif transportasi, seperti rute darat melalui Kazakhstan.
Secara keseluruhan, ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi faktor kunci yang dapat mengubah arah pasar energi global dalam waktu dekat.