Setapak Langkah – 13 Juli 2026 | Pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan udara ketiga terhadap Republik Islam Iran pada Sabtu, 11 Juli 2024, setelah sebuah kapal kargo yang beroperasi di Teluk Persia dilaporkan mengalami kerusakan yang diduga diakibatkan oleh tindakan militer Iran. Serangan ini menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan yang telah memuncak sejak awal bulan ini.
Berikut rangkaian peristiwa yang memicu aksi militer tersebut:
- 9 Juli 2024: Kapal kargo milik perusahaan dagang internasional mengalami kegagalan mesin di perairan dekat Selat Hormuz; laporan awal menyebutkan adanya tembakan yang menargetkan kapal.
- 10 Juli 2024: Pemerintah AS menuduh Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penurunan kemampuan kapal, dan mengeluarkan pernyataan bahwa tindakan tersebut mengancam keamanan jalur perdagangan laut.
- 11 Juli 2024: AS meluncurkan gelombang serangan ketiga, menargetkan pangkalan militer, fasilitas radar, dan instalasi pertahanan udara di wilayah barat Iran.
Serangan tersebut melibatkan pesawat pembom berkecepatan tinggi dan sistem rudal presisi, dengan tujuan menonaktifkan infrastruktur militer yang dianggap berperan dalam aksi terhadap kapal kargo. Tidak ada laporan resmi mengenai korban jiwa di pihak Iran, namun sejumlah fasilitas militer dinyatakan mengalami kerusakan signifikan.
Reaksi Iran menegaskan bahwa mereka akan membalas setiap agresi yang dilakukan Amerika Serikat. Pihak Tehran menyatakan kesiapan untuk meningkatkan pertahanan udara dan menegaskan bahwa serangan ini melanggar kedaulatan negara.
Komunitas internasional memberikan respons beragam. Sementara beberapa negara sekutu AS menyatakan dukungan terhadap langkah tersebut sebagai upaya menjaga kebebasan navigasi, negara-negara lain menyerukan penurunan ketegangan dan mengingatkan risiko eskalasi lebih lanjut yang dapat mengganggu pasar energi global.
Analisis para pakar geopolitik memperkirakan bahwa serangkaian serangan ini dapat mempengaruhi harga minyak dunia, mengingat ketergantungan banyak negara pada jalur pengiriman melalui Teluk Persia. Selain itu, tindakan militer berulang dapat menimbulkan tekanan diplomatik yang mendorong kedua belah pihak kembali ke meja perundingan.