Setapak Langkah – 13 Juli 2026 | Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengumumkan bahwa program penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur akan difokuskan pada dua bandara utama, yaitu Bandara Soetta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai. Pada fase awal, SAF akan dicampurkan sebesar satu persen dengan bahan bakar jet konvensional.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menurunkan emisi karbon di sektor penerbangan dan mendukung target nasional pengurangan gas rumah kaca. Kemenhub menargetkan peningkatan proporsi SAF menjadi lima persen pada tahun 2030, seiring dengan meningkatnya ketersediaan bahan baku bioavtur di dalam negeri.
Beberapa poin penting terkait implementasi SAF di kedua bandara tersebut:
- Bandara Soetta: Sebagai pintu gerbang utama di Pulau Jawa, bandara ini akan menjadi lokasi pilot project pertama. Pemerintah bekerja sama dengan maskapai penerbangan domestik untuk menguji campuran 1% SAF pada penerbangan reguler.
- Bandara I Gusti Ngurah Rai: Bandara internasional di Bali dipilih karena tingginya volume penerbangan wisatawan, sehingga dampak pengurangan emisi dapat dirasakan secara signifikan.
- Rencana tahapan: Tahun 2024 – uji coba 1% SAF; Tahun 2025 – evaluasi hasil dan peningkatan menjadi 2%; Tahun 2026-2030 – target akhir 5% SAF pada semua penerbangan domestik dan internasional.
Pemerintah juga mengalokasikan dana khusus untuk riset dan pengembangan produksi bioavtur berbasis bahan baku lokal, seperti minyak kelapa sawit, limbah pertanian, dan mikroalga. Dengan memperkuat rantai pasok domestik, diharapkan ketergantungan pada bahan bakar fosil impor dapat berkurang.
Manfaat yang diharapkan meliputi penurunan emisi CO2 sebesar 30.000 ton per tahun, peningkatan citra hijau industri penerbangan Indonesia, serta potensi penciptaan lapangan kerja di sektor bioenergi.
Namun, tantangan tetap ada, antara lain ketersediaan bahan baku yang konsisten, biaya produksi SAF yang masih lebih tinggi dibandingkan bahan bakar konvensional, serta kebutuhan infrastruktur penyimpanan khusus di bandara. Kemenhub berjanji akan terus berkoordinasi dengan pihak swasta, lembaga riset, dan komunitas internasional untuk mengatasi hambatan tersebut.