Setapak Langkah – 07 Juli 2026 | Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, baru-baru ini menyampaikan keprihatinan mendalam terkait keamanan nasional Israel bila Amerika Serikat memutuskan menjual jet tempur generasi kelima F-35 kepada Turki. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan kepada media internasional, Netanyahu menegaskan bahwa penjualan tersebut dapat mengubah keseimbangan militer di Timur Tengah dan menimbulkan risiko bagi pertahanan Israel.
Hubungan antara Israel dan Turki sempat mengalami penurunan tajam sejak insiden Gedung Kedutaan Besar Israel di Istanbul pada tahun 2018, yang menewaskan tiga diplomat Israel. Sejak itu, kedua negara terus berada dalam ketegangan diplomatik, meskipun ada upaya perbaikan hubungan dalam beberapa tahun terakhir.
Program penjualan F-35 kepada Turki awalnya direncanakan pada 2019, namun kemudian ditunda setelah Turki mengirim pesawat tempur S-400 buatan Rusia ke dalam angkatan udaranya, yang dianggap melanggar perjanjian dengan NATO. Meskipun demikian, pada 2022 Amerika Serikat kembali mengumumkan niat untuk melanjutkan negosiasi penjualan F-35, dengan nilai kontrak diperkirakan mencapai miliaran dolar.
Netanyahu menilai bahwa kemampuan stealth dan teknologi canggih F-35 dapat memberikan Turki keunggulan strategis yang dapat mengintai wilayah udara Israel, terutama mengingat Turki memiliki hubungan militer yang berkembang dengan Iran dan kelompok-kelompok militan di kawasan tersebut.
- Keamanan Israel: Penjualan F-35 dapat memperluas jangkauan radar dan kemampuan serangan Turki, sehingga menimbulkan ancaman langsung terhadap pertahanan udara Israel.
- Hubungan AS‑Israel: Israel mengandalkan dukungan militer AS, termasuk sistem pertahanan seperti Iron Dome; penjualan F-35 ke Turki dianggap menodai kepercayaan yang telah terbangun selama dekade.
- Dampak regional: Negara-negara lain di kawasan, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dapat menanggapi langkah serupa dengan meningkatkan pembelian senjata canggih, memicu perlombaan senjata.
Pemerintah Amerika Serikat belum memberikan respons resmi terhadap tekanan yang disampaikan Netanyahu. Namun, pejabat Pentagon menegaskan pentingnya menilai setiap penjualan senjata berat berdasarkan kepentingan keamanan nasional AS dan sekutunya.
Jika penjualan F-35 kepada Turki tetap dilanjutkan, kemungkinan Israel akan memperkuat sistem pertahanan udara dan meningkatkan kerja sama intelijen dengan negara sahabat, termasuk memperluas penggunaan sistem pertahanan seperti Arrow dan David’s Sling.
Berikut rangkuman kronologis terkait penjualan F-35 kepada Turki:
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 2019 | Negosiasi awal penjualan F-35 dimulai, namun dihentikan setelah Turki membeli sistem pertahanan S-400. |
| 2022 | AS mengumumkan rencana melanjutkan penjualan F-35 dengan nilai kontrak diperkirakan $10 miliar. |
| 2024 | Netanyahu secara terbuka menolak penjualan tersebut, mengutip ancaman keamanan bagi Israel. |
Situasi ini menyoroti kompleksitas kebijakan luar negeri di kawasan yang sarat ketegangan, di mana keputusan penjualan senjata tidak hanya mempengaruhi satu negara, melainkan dapat mengubah dinamika keamanan regional secara luas.