Setapak Langkah – 07 Juli 2026 | Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan akan berlangsung pada akhir tahun ini menjadi agenda penting karena akan menentukan aspirasi (AHWA) untuk memilih Rais Aam Syuriyah yang akan memimpin organisasi hingga pemilihan selanjutnya pada 2026.
Proses pemilihan Rais Aam tidak lagi mengandalkan sistem konvensional semata, melainkan mengacu pada empat pilar AHWA: Aspirasi, Harapan, Wasiat, dan Amanah. Keempat unsur tersebut dijadikan pedoman bagi anggota Majelis Taklim, Dewan Pimpinan Wilayah, dan tokoh-tokoh kunci lainnya dalam menilai calon pemimpin tertinggi.
Dalam sebuah pertemuan tertutup, beberapa tokoh Nahdliyin—yang mewakili generasi muda NU—mengungkapkan kriteria utama yang harus dipenuhi oleh calon Rais Aam. Kriteria tersebut mencakup:
- Integritas moral dan kejujuran yang terbukti dalam kehidupan pribadi dan organisasi.
- Kedalaman ilmu agama serta kemampuan menginterpretasikan syariah secara kontekstual.
- Pengalaman kepemimpinan di tingkat provinsi atau nasional, termasuk kemampuan mengelola organisasi besar.
- Visi strategis yang jelas untuk menggerakkan NU dalam menghadapi tantangan sosial‑ekonomi modern.
- Kemampuan membangun konsensus lintas aliran pemikiran dalam NU serta menjaga persatuan umat.
- Rekam jejak aktif dalam kegiatan dakwah, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.
- Usia ideal antara 45–55 tahun, memastikan keseimbangan antara energi muda dan kebijaksanaan.
Selain poin‑poin di atas, tokoh Nahdliyin menekankan pentingnya sikap inklusif, kemampuan beradaptasi dengan teknologi informasi, serta komitmen terhadap nilai‑nilai kebangsaan.
Dengan kriteria yang telah dirumuskan, diharapkan proses pemilihan Rais Aam dapat berjalan transparan, akuntabel, dan menghasilkan pemimpin yang mampu membawa NU ke arah yang lebih progresif serta tetap berpegang pada tradisi keagamaan yang kuat.