Setapak Langkah – 20 Juni 2026 | Devisa yang dihasilkan oleh sektor pariwisata Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 tercatat naik 6,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini menandakan pemulihan pasca‑pandemi yang semakin kuat, sekaligus membuka ruang bagi peningkatan kompetensi tenaga kerja di industri wisata.
Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa devisa pariwisata pada Januari‑Maret 2026 mencapai US$5,9 miliar, naik dari US$5,55 miliar pada kuartal yang sama tahun 2023. Berikut ringkasan pertumbuhan:
| Tahun | Devisa (Miliar USD) | Pertumbuhan % |
|---|---|---|
| 2023 | 5,55 | – |
| 2024 | 5,70 | 2,7 |
| 2025 | 5,78 | 1,4 |
| 2026 (Q1) | 5,90 | 6,3 |
Para akademisi menilai bahwa meski angka devisa meningkat, masih terdapat kesenjangan signifikan dalam kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor ini. Dr. Andi Prasetyo, dosen Fakultas Pariwisata Universitas Indonesia, menekankan bahwa “permintaan wisatawan yang semakin beragam menuntut tenaga kerja yang tidak hanya menguasai bahasa asing, tetapi juga kompetensi digital dan layanan berbasis teknologi.”
Dengan prospek kunjungan wisatawan internasional yang diperkirakan meningkat 8‑9 persen pada paruh pertama 2026, pemerintah berencana memperkuat infrastruktur transportasi dan memperluas promosi digital. Langkah‑langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan volume devisa, tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi generasi muda.
Secara keseluruhan, pertumbuhan devisa 6,3 persen pada triwulan I 2026 mencerminkan pemulihan yang konsisten, namun keberlanjutan pertumbuhan tersebut sangat bergantung pada kesiapan SDM dalam menghadapi tantangan pasar global yang semakin kompetitif.