Setapak Langkah – 18 Juni 2026 | Denpasar, Bali – Pada malam Galungan, Pura Agung Jagatnatha kembali dipenuhi oleh ribuan umat Hindu yang datang untuk melaksanakan serangkaian upacara keagamaan. Meskipun beberapa tradisi telah mengalami penyesuaian pasca-pandemi, semangat keagamaan tetap kuat, menandai pentingnya hari suci tersebut bagi komunitas Bali.
Galungan diperingati sebagai kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (kejahatan). Selama periode ini, umat Hindu diyakini dapat berkomunikasi dengan leluhur mereka yang kembali mengunjungi dunia manusia. Upacara dimulai dengan pembersihan pura, dilanjutkan oleh persembahan canang sari, dan diakhiri dengan prosesi menyalakan obor di sekitar kompleks.
- Persiapan: Para pemuka agama dan relawan membersihkan area pura sejak pagi hari, memastikan kebersihan dan kesiapan ruang upacara.
- Persembahan: Canang sari, sesajen buah, dan bunga melambai di altar utama sebagai tanda hormat kepada dewa-dewi dan leluhur.
- Doa bersama: Seluruh jamaah berkumpul untuk membaca mantra dan nyanyian keagamaan yang dipimpin oleh pemangku pura.
- Prosesi obor: Pada malam hari, jamaah membawa obor dan melintasi pintu gerbang pura, melambangkan cahaya pengetahuan mengusir kegelapan.
Kehadiran warga lokal maupun wisatawan yang ingin menyaksikan budaya Bali turut menambah keramaian. Pengunjung diminta untuk menghormati tata tertib, seperti tidak menyentuh perlengkapan suci dan menjaga kebersihan lingkungan.
| Waktu | Kegiatan |
|---|---|
| 04:00 | Pembersihan pura dan persiapan sesajen |
| 06:00 | Upacara pembukaan dan persembahan canang sari |
| 18:00 | Doa bersama dan nyanyian keagamaan |
| 20:00 | Prosesi obor di sekitar komplek pura |
Suasana malam itu dipenuhi aroma dupa, cahaya obor, serta lantunan mantra yang menenangkan. Masyarakat mengungkapkan rasa syukur karena tradisi Galungan tetap hidup dan menjadi jembatan antara generasi lama dan muda dalam melestarikan warisan budaya Bali.