Setapak Langkah – 17 Juni 2026 | Pengamat politik Ayip Tayana menyampaikan kekecewaannya atas keputusan pembubaran forum diskusi yang diadakan di Universitas Gadjah Mada (UGM). Menurutnya, tindakan tersebut menghambat fungsi utama perguruan tinggi sebagai ruang terbuka untuk pertukaran gagasan dan debat kritis.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa, dosen, dan peneliti membutuhkan platform yang bebas dari intervensi eksternal agar dapat mengemukakan pendapat secara jujur, termasuk mengenai isu-isu sensitif yang berkaitan dengan kebijakan publik. Pembubaran diskusi, menurut Tayana, dapat menimbulkan efek menekan kebebasan berpendapat dan menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi akademik.
Beberapa poin penting yang disampaikan:
- Universitas seharusnya menjadi arena dialog yang inklusif, tidak memihak.
- Pembatasan ruang diskusi dapat mengurangi kualitas riset dan pengembangan pemikiran kritis.
- Kebebasan akademik harus dilindungi oleh regulasi yang jelas, bukan dipengaruhi oleh tekanan politik atau kelompok tertentu.
Tayana juga mengajak pihak kampus untuk meninjau kembali kebijakan internal serta mengadopsi standar internasional yang menekankan pentingnya kebebasan berpendapat dalam lingkungan pendidikan tinggi. Ia menekankan bahwa solusi jangka panjang melibatkan pembentukan mekanisme mediasi yang transparan, sehingga setiap permasalahan dapat diselesaikan melalui dialog, bukan melalui tindakan represif.
Dengan menegakkan prinsip dialog terbuka, kampus tidak hanya melindungi hak-hak akademik, tetapi juga berperan sebagai kontributor penting dalam pembentukan kebijakan publik yang lebih baik.