Setapak Langkah – 17 Juni 2026 | Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu secara tegas menolak gerakan mahasiswa yang dianggap dimanfaatkan oleh kepentingan politik praktis. Penolakan ini disampaikan dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis pada tanggal 15 Juni 2026, menyusul munculnya berbagai aksi kampus yang dinilai sekadar sarana bagi partai politik untuk memperkuat basisnya.
Penolakan tersebut juga dilengkapi dengan poin-poin utama yang disampaikan oleh BEM Bersatu:
- Menjaga independensi organisasi mahasiswa dari intervensi partai politik.
- Menghindari penggunaan aksi mahasiswa sebagai ajang kampanye politik praktis.
- Memastikan bahwa agenda gerakan mahasiswa tetap berbasis kepentingan pendidikan dan kesejahteraan mahasiswa.
Reaksi dari pihak kampus dan organisasi mahasiswa lain beragam. Beberapa rektor mengapresiasi sikap BEM Bersatu yang menegakkan prinsip netralitas, sementara kelompok mahasiswa lain menilai bahwa politik tidak dapat dipisahkan dari perjuangan sosial. Meski begitu, BEM Bersatu menegaskan akan terus memantau setiap perkembangan dan akan menindaklanjuti bila terdapat pelanggaran terhadap prinsip independensi.
Dalam konteks politik nasional, pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya dinamika politik praktis menjelang pemilihan umum mendatang. Observers mencatat bahwa aksi mahasiswa sering kali dimanfaatkan oleh partai politik untuk meningkatkan popularitas di kalangan pemilih muda.
BEM Bersatu mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk tetap kritis, menjaga integritas, dan berfokus pada agenda yang benar-benar mewakili kepentingan mereka. “Kita harus menjadi suara yang otentik, bukan sekadar pion dalam permainan politik,” pungkas Ahmad Fauzi.