Setapak Langkah – 16 Juni 2026 | Wamentan, lembaga riset pertanian terkemuka di Indonesia, baru-baru ini mengungkapkan bahwa ubi jalar memiliki potensi besar untuk menjadi komoditas strategis yang dapat menggerakkan perekonomian nasional. Menurut analisis internal, ubi jalar tidak hanya mampu meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi petani dan pelaku industri pengolahan makanan.
Berbagai faktor mendukung posisi ubi jalar sebagai “harta karun” pangan, antara lain:
- Adaptabilitas iklim: Tanaman ubi jalar dapat tumbuh optimal di berbagai zona iklim Indonesia, dari dataran tinggi hingga dataran rendah.
- Produktivitas tinggi: Dengan praktik budidaya modern, rata‑rata hasil panen dapat mencapai 25–30 ton per hektar, jauh melampaui tanaman umbi lain seperti singkong.
- Nilai gizi: Kandungan karbohidrat kompleks, serat, vitamin A, dan antioksidan menjadikan ubi jalar pilihan sehat untuk konsumsi sehari‑hari.
- Pasar yang berkembang: Permintaan produk olahan ubi jalar – seperti chip, tepung, dan bahan baku industri kosmetik – terus meningkat baik di pasar domestik maupun ekspor.
Wamentan menekankan pentingnya dukungan teknologi dan penyediaan benih unggul untuk mempercepat adopsi varietas baru. Berikut rangkuman langkah strategis yang direkomendasikan:
- Pengembangan varietas tahan hama dan penyakit melalui pemuliaan berbasis genomik.
- Penerapan sistem pertanian presisi, termasuk penggunaan sensor tanah dan irigasi otomatis.
- Peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan intensif tentang manajemen lahan dan pasca panen.
- Kolaborasi dengan industri pengolahan untuk menciptakan produk bernilai tambah.
Data produksi ubi jalar di lima provinsi unggulan menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam tiga tahun terakhir:
| Provinsi | Produksi 2021 (ton) | Produksi 2022 (ton) | Produksi 2023 (ton) |
|---|---|---|---|
| Jawa Barat | 12.500 | 14.800 | 17.200 |
| Sumatera Utara | 9.300 | 10.900 | 12.600 |
| Sulawesi Tengah | 6.200 | 7.400 | 8.900 |
| Bali | 3.100 | 3.800 | 4.500 |
| Papua Barat | 2.700 | 3.300 | 4.100 |
Dengan peningkatan tersebut, Wamentan memperkirakan bahwa dalam jangka menengah ubi jalar dapat menyumbang hingga 15% dari total produksi umbi-umbian di Indonesia. Hal ini diyakini akan memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memberikan dampak positif pada pendapatan petani dan industri terkait.
Kesimpulannya, pemanfaatan potensi ubi jalar memerlukan sinergi antara pemerintah, lembaga riset, pelaku usaha, dan komunitas petani. Jika dukungan tersebut terwujud, ubi jalar berpotensi menjadi pilar baru dalam strategi pangan Indonesia.