Setapak Langkah – 16 Juni 2026 | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa peredaan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dapat memberikan tekanan turun pada harga minyak dunia. Penurunan harga tersebut berpotensi mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini menjadi komponen signifikan dalam anggaran negara.
Selama beberapa bulan terakhir, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah, mendorong pemerintah Indonesia untuk menambah subsidi BBM agar harga dalam negeri tetap terjangkau. Akibatnya, defisit anggaran mengalami tekanan besar, dengan alokasi subsidi mencapai lebih dari 50% dari total belanja fiskal pada kuartal pertama 2024.
Purbaya menjelaskan bahwa apabila harga minyak kembali stabil atau menurun, beban subsidi dapat diperkirakan berkurang hingga 30% dibandingkan puncak belanja tahun sebelumnya. Penurunan ini akan memberikan ruang fiskal tambahan untuk menyalurkan dana ke sektor‑sektor prioritas seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Berikut perkiraan dampak penurunan harga minyak terhadap subsidi BBM:
| Harga Minyak (USD/barrel) | Subsidi BBM (Triliun IDR) | Persentase Anggaran |
|---|---|---|
| 90 | 150 | 45% |
| 70 | 110 | 33% |
| 50 | 80 | 24% |
Selain manfaat fiskal, peredaan konflik juga diharapkan menstabilkan pasokan energi global, yang pada gilirannya dapat menurunkan inflasi impor. Purbaya menekankan pentingnya kebijakan penyesuaian subsidi yang bersifat dinamis, sehingga pemerintah dapat merespons perubahan harga komoditas secara cepat.
Ia juga menambahkan bahwa meski penurunan beban subsidi menjadi peluang, pemerintah tetap harus menjaga kepastian harga bagi konsumen, terutama bagi kelompok rumah tangga berpendapatan rendah yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga BBM.