Setapak Langkah – 15 Juni 2026 | Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah tidak hanya menjadi sorotan geopolitik, tetapi juga menimbulkan efek riil pada perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz serta gangguan pasokan minyak mengakibatkan lonjakan harga energi global, yang selanjutnya menekan inflasi domestik.
Inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga minyak dan komoditas impor berdampak pada daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah. Untuk meredam dampak tersebut, pemerintah telah memperkuat jaring pengaman sosial melalui program subsidi, bantuan langsung tunai, dan peningkatan tunjangan kesehatan.
Di samping upaya negara, peran zakat sebagai instrumen distribusi kekayaan umat Islam menjadi semakin vital. Zakat dapat menambah sumber daya bagi program kesejahteraan, membantu menutupi kesenjangan yang belum dapat dijangkau oleh kebijakan publik.
- Penguatan koordinasi: Lembaga amil zakat perlu berkolaborasi dengan kementerian terkait untuk menyalurkan dana zakat ke program bantuan sosial yang tepat sasaran.
- Transparansi distribusi: Penggunaan teknologi informasi dapat meningkatkan akuntabilitas dalam penyaluran zakat, sehingga donatur merasa yakin dana mereka memberi dampak maksimal.
- Targetkan kelompok terdampak inflasi: Bantuan zakat difokuskan pada rumah tangga yang mengalami penurunan real income akibat kenaikan harga pangan dan energi.
- Integrasi dengan program pemerintah: Sinergi antara zakat, infaq, dan program sosial negara dapat mengoptimalkan alokasi sumber daya serta mengurangi duplikasi.
Secara keseluruhan, kombinasi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kontribusi zakat dapat menjadi benteng yang lebih kuat melawan tekanan inflasi yang dipicu oleh dinamika geopolitik. Dengan koordinasi yang tepat, jaring pengaman sosial Indonesia dapat lebih responsif dan inklusif, memastikan bahwa beban ekonomi tidak beralih sepenuhnya kepada lapisan masyarakat paling rentan.