Setapak Langkah – 12 Juni 2026 | Anggota parlemen Israel, Ariel Kellner, anggota Knesset dari Partai Likud, menyatakan Turki sebagai “negara musuh” dalam sebuah wawancara yang menimbulkan kehebohan di lingkup diplomatik.
Keterangan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Turki, khususnya setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan ancaman potensial terhadap kepentingan Israel di wilayah Timur Tengah. Pernyataan Erdogan menyebutkan kemungkinan penggunaan tekanan ekonomi dan politik sebagai respons terhadap kebijakan Israel di Palestina.
Kellner menegaskan bahwa sikap keras Turki tidak hanya bersifat retoris, melainkan telah mengarah pada tindakan konkret, termasuk pengenaan sanksi perdagangan dan penolakan kerja sama militer. Ia menambahkan bahwa Israel harus memperkuat pertahanan serta meningkatkan koordinasi dengan sekutu‑sekutu tradisionalnya.
- Turki menuduh Israel melakukan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Palestina.
- Erdogan mengancam akan memperkuat aliansi dengan negara‑negara yang menentang kebijakan Israel.
- Kellner menilai langkah Turki sebagai bagian dari “strategi konfrontasi” yang dapat menggoyahkan stabilitas regional.
Reaksi internasional masih beragam. Beberapa negara Barat menyerukan dialog untuk meredakan ketegangan, sementara sekutu‑sekutu Turki di kawasan menyoroti pentingnya menegakkan prinsip kedaulatan dan hak asasi manusia.
Para pengamat memperkirakan bahwa eskalasi retorika dapat memicu konsekuensi ekonomi, mengingat Turki merupakan salah satu pasar penting bagi produk‑produk pertanian dan teknologi Israel. Di sisi lain, ketegangan politik dapat memengaruhi kerja sama keamanan di wilayah Laut Mediterania.
Sejauh ini, tidak ada laporan resmi mengenai tindakan militer atau sanksi tambahan yang telah diterapkan. Namun, pernyataan Kellner menandai titik balik dalam wacana hubungan Israel‑Turki, menegaskan bahwa kedua negara kini berada pada posisi saling mencurigai.