Setapak Langkah – 11 Juni 2026 | Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax yang tidak bersubsidi diproyeksikan naik signifikan dalam beberapa minggu ke depan. Kenaikan tersebut diperkirakan akan menambah beban operasional bagi pelaku usaha, terutama di sektor transportasi dan logistik.
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menilai lonjakan harga pertamax dapat mengurangi daya saing perusahaan domestik di pasar global. Dalam pernyataan resmi, HIPMI menekankan perlunya pemerintah melakukan langkah mitigasi agar beban biaya tidak melumpuhkan pertumbuhan ekonomi.
- Permintaan utama: penetapan subsidi temporer atau penurunan tarif pajak bahan bakar.
- Usulan alternatif: pemberian insentif pajak bagi perusahaan yang menggunakan kendaraan hemat energi.
- Harapan: kebijakan yang menstabilkan harga dalam jangka menengah untuk menjaga kestabilan biaya produksi.
Beberapa faktor yang memicu kenaikan harga antara lain fluktuasi harga minyak dunia, penyesuaian nilai tukar rupiah, serta kebijakan fiskal terkait pajak energi. Jika tidak diatasi, kenaikan ini dapat memicu inflasi pada sektor transportasi, yang pada gilirannya memengaruhi harga barang konsumen.
Pemerintah diperkirakan akan meninjau kembali kebijakan pajak dan subsidi energi dalam rapat koordinasi dengan kementerian terkait. HIPMI mengajak semua pemangku kepentingan, termasuk asosiasi pengusaha, lembaga keuangan, dan regulator, untuk berkolaborasi dalam mencari solusi yang berkelanjutan.