Setapak Langkah – 09 Juni 2026 | Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Anis Matta, menilai bahwa konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat masih berada pada fase yang belum menentukan. Dalam sebuah pertemuan diplomatik, ia memaparkan tiga skenario utama yang mungkin terjadi, mulai dari penyelesaian damai hingga kemungkinan eskalasi nuklir.
Skenario pertama, yang disebut sebagai “perdamaian diplomatik”, melibatkan negosiasi intensif antara pihak‑pihak terkait dengan dukungan komunitas internasional. Jika tercapai, ketegangan militer dapat mereda, dan jalur dialog politik menjadi utama.
Skenario kedua, “konflik terbatas”, menggambarkan situasi di mana bentrokan militer berskala kecil terjadi, misalnya serangan udara atau pertukaran tembakan di perbatasan. Dalam skenario ini, dampak ekonomi regional dan aliran energi dapat terganggu, namun belum mencapai titik kritis.
Skenario ketiga, “eskalasi nuklir”, merupakan skenario terburuk yang mencakup kemungkinan penggunaan atau ancaman penggunaan senjata nuklir oleh Iran sebagai upaya balasan terhadap tekanan militer. Dampaknya diproyeksikan akan menimbulkan krisis kemanusiaan global dan mengganggu stabilitas geopolitik secara luas.
- Perdamaian diplomatik: Negosiasi multilateral, penghentian sanksi, dan perjanjian keamanan.
- Konflik terbatas: Operasi militer terbatas, peningkatan patroli, dan potensi gangguan perdagangan energi.
- Eskalasi nuklir: Ancaman atau penggunaan senjata nuklir, respons internasional massal, dan konsekuensi kemanusiaan yang ekstrem.
Anis Matta menekankan peran penting Indonesia sebagai mediator netral yang dapat membantu mengurangi ketegangan melalui dialog bilateral dan forum multilateral seperti Perserikatan Bangsa‑Bangsa. Ia juga menyoroti perlunya kesiapan diplomatik Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik yang cepat berubah, serta pentingnya koordinasi dengan negara‑negara sahabat untuk mencegah penyebaran senjata massal.