Setapak Langkah – 06 Juni 2026 | Ramos Horta, mantan Presiden Timor Leste dan peraih Nobel Perdamaian, baru-baru ini mengungkapkan faktor‑faktor kunci yang memungkinkan terciptanya hubungan damai antara Timor Leste dan Indonesia setelah konflik 1999‑2002.
- Habibie (1998‑1999): Sebagai presiden transisi, ia menyetujui referendum kemerdekaan Timor Leste, membuka jalan bagi dialog resmi antara kedua negara.
- Gus Dur (1999‑2001): Menekankan pentingnya keadilan dan perdamaian, ia menginstruksikan pasukan keamanan Indonesia untuk menghentikan tindakan represif serta mendukung misi PBB di Timor Leste.
- Megawati (2001‑2004): Memperkuat hubungan diplomatik dengan menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi dan budaya, serta mengirimkan bantuan kemanusiaan pasca‑konflik.
Langkah‑langkah tersebut, bila dilihat secara bersamaan, menciptakan iklim saling percaya yang memungkinkan pembentukan institusi bilateral, seperti Komisi Persahabatan Indonesia‑Timor Leste, serta program pertukaran pendidikan dan kebudayaan.
Horta juga menyoroti peran aktif masyarakat sipil dan organisasi regional, termasuk ASEAN, yang sejak awal menekankan prinsip non‑intervensi dan mendukung proses perdamaian. Ia menegaskan bahwa kesiapan Timor Leste untuk bergabung dengan ASEAN kini semakin kuat, didukung oleh stabilitas politik yang tercapai berkat kerja sama historis tersebut.
Dengan menilik kembali jejak kebijakan tiga presiden Indonesia, Horta berpendapat bahwa “rahasia utama” keberhasilan hubungan damai terletak pada kesediaan kedua belah pihak untuk mengesampingkan kepentingan sempit demi kepentingan bersama, serta pada keberanian pemimpin‑pemimpin tersebut untuk mengambil keputusan berani pada masa transisi.