Setapak Langkah – 25 Mei 2026 | Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dengan situasi krisis ekonomi tahun 1998. Menurutnya, sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang kuat serta stabilitas yang belum pernah tercapai dalam dua dekade terakhir.
Berikut beberapa poin utama yang diutarakan oleh Wamenkeu dalam pernyataannya:
- Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB): Pada kuartal terakhir, ekonomi mencatat pertumbuhan sekitar 5,2 % secara tahunan, jauh di atas target pemerintah sebesar 5 %.
- Inflasi: Tingkat inflasi berada pada kisaran 2,8 % yang berada dalam kisaran target Bank Indonesia (2‑4 %).
- Defisit Anggaran: Defisit fiskal telah turun menjadi 2,4 % dari Produk Domestik Bruto, menandakan penurunan beban utang publik.
- Pendapatan Pajak: Penerimaan pajak mengalami kenaikan lebih dari 10 % dibandingkan tahun sebelumnya, berkat reformasi perpajakan dan peningkatan kepatuhan.
- Kurs Rupiah: Nilai tukar Rupiah relatif stabil terhadap dolar Amerika Serikat, mengurangi tekanan impor.
Wamenkeu juga menambahkan bahwa pelajaran dari krisis 1998 menjadi landasan bagi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih prudensial. Pemerintah kini berfokus pada penguatan cadangan devisa, pengendalian utang, serta diversifikasi sumber pertumbuhan melalui investasi infrastruktur dan pengembangan sektor manufaktur.
Meski demikian, beliau mengingatkan bahwa tantangan global seperti ketegangan geopolitik dan volatilitas harga komoditas tetap perlu diwaspadai. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga kebijakan yang fleksibel dan responsif agar ekonomi tetap berada pada jalur yang sehat.