Setapak Langkah – 22 Mei 2026 | Jakarta, Republika.co.id – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Republik Indonesia bersama pemerintah Korea Selatan dan Global Green Growth Institute (GGGI) meluncurkan inisiatif baru bernama ASEAN‑Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM). Proyek ini dirancang untuk menurunkan tingkat emisi gas metana di kawasan Asia Tenggara dengan mengintegrasikan teknologi canggih, kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, serta kapasitas sumber daya manusia.
Metana, yang memiliki potensi pemanasan global hampir 30 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu 20 tahun, menjadi fokus utama upaya mitigasi iklim. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup, sektor energi, pertanian, serta limbah menghasilkan lebih dari setengah total emisi metana Indonesia. Oleh karena itu, AKCMM menargetkan pengurangan sebesar 30 % pada tahun 2030 dibandingkan tingkat emisi 2020.
Beberapa komponen utama proyek meliputi:
- Pemetaan sumber emisi menggunakan sensor berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendeteksi kebocoran pada instalasi industri, fasilitas pengolahan limbah, dan peternakan.
- Pengembangan teknologi penangkap metana seperti anaerobic digesters dan sistem pemulihan gas di tempat tambang.
- Pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi regulator dan pelaku industri di 10 negara ASEAN, termasuk Indonesia, Thailand, dan Filipina.
- Skema pembiayaan hijau dengan dukungan dana awal sebesar US$ 45 juta dari Korea Selatan dan GGGI, serta peluang pendanaan tambahan melalui mekanisme karbon internasional.
Menanggapi peluncuran proyek, Menteri Lingkungan Hidup, Budi Waseso, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. “Kerjasama dengan Korea Selatan dan GGGI memberikan kami akses teknologi terkini serta pendanaan yang diperlukan untuk mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta.
Pihak Korea Selatan, yang telah berhasil menurunkan emisi metana domestik melalui kebijakan subsidi teknologi penangkap gas, menyatakan komitmen untuk berbagi best practice serta menyediakan tenaga ahli selama fase implementasi. Sementara itu, GGGI akan memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan memantau pencapaian target mitigasi.
Proyek AKCMM diharapkan menjadi model kerjasama regional yang dapat direplikasi di kawasan lain. Dengan mengurangi emisi metana, tidak hanya akan membantu Indonesia memenuhi komitmen pada Persetujuan Paris, tetapi juga meningkatkan kualitas udara, mengurangi beban kesehatan masyarakat, dan membuka peluang ekonomi baru di sektor energi bersih.