Setapak Langkah – 21 Mei 2026 | Pada hari Kamis, 1 Juni 2024, lebih dari seribu warga berkumpul dalam aksi Kamisan yang diperingati sebagai momentum meninjau kembali perjuangan Reformasi 1998. Demonstrasi berlangsung di alun‑alun Monas, Jakarta, dan dihadiri oleh aktivis, veteran reformasi, serta kalangan mahasiswa dan pekerja yang menilai semangat perubahan yang diusung pada tahun 1998 kini mulai memudar.
Para peserta menyoroti beberapa hal penting yang dianggap belum terealisasi, antara lain penegakan hukum terhadap pelaku kerusuhan 1998, penghapusan impunitas, serta pemenuhan janji‑janji kebijakan ekonomi yang adil. Mereka juga menuntut transparansi dalam pengelolaan dana publik dan perlindungan hak asasi manusia yang lebih kuat.
- Penegakan hukum tanpa diskriminasi terhadap pelaku kekerasan 1998
- Pembentukan komisi independen untuk mengaudit kasus‑kasus korupsi era reformasi
- Penguatan lembaga pengawas DPR dan lembaga peradilan
- Peningkatan kesejahteraan ekonomi bagi pekerja informal
- Pemenuhan jaminan kebebasan bersuara dan berkumpul
Seorang veteran aksi 1998, Budi Santoso, menyampaikan, “Kita tidak menggelar aksi ini untuk menghakimi masa lalu, melainkan untuk mengingatkan bahwa cita‑cita reformasi masih harus dijaga. Jika tidak, maka perjuangan kami selama dua puluh lima tahun akan sia‑sia.”
Pihak kepolisian melaporkan tidak ada insiden kekerasan signifikan selama aksi berlangsung. Namun, beberapa peserta mengeluhkan adanya tekanan administratif bagi mereka yang ingin berpartisipasi, termasuk penolakan izin berkumpul di beberapa titik strategis.
Pejabat pemerintah setempat menanggapi aksi tersebut dengan menyatakan komitmen untuk terus mengevaluasi kebijakan reformasi, meski tidak memberikan rincian konkret. “Kami mendengarkan aspirasi rakyat dan akan menindaklanjuti sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku,” ujar juru bicara Kementerian Hukum dan HAM.
Meski perbedaan pandangan masih terasa, aksi Kamisan tahun ini menegaskan bahwa gerakan reformasi tetap menjadi agenda publik yang hidup. Para aktivis berharap bahwa tekanan sosial ini dapat memicu langkah nyata dalam menyelesaikan masalah yang masih menggantung sejak era perubahan 1998.