Setapak Langkah – 21 Mei 2026 | Beberapa hari terakhir publik Indonesia ramai dibicarakan oleh sebuah film dokumenter investigasi berjudul “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman …”. Film tersebut mengangkat sejarah kelam kolonialisme di Papua, menyoroti praktik eksploitasi, pelanggaran hak asasi, dan dampak sosial‑ekonomi yang masih terasa hingga kini.
Latar Belakang Sejarah Papua
Papua merupakan bagian integral wilayah Indonesia sejak tahun 1969 melalui Penetapan Batas Wilayah Negara (Penegakan Kedaulatan). Namun, selama masa penjajahan Belanda dan kemudian kebijakan kolonial yang diteruskan oleh beberapa pihak, terjadi perampasan lahan, pemaksaan kerja paksa, serta penindasan budaya tradisional.
Isi Dokumenter
Film “Pesta Babi” menelusuri jejak-jejak kolonial melalui arsip foto, rekaman saksi mata, serta wawancara dengan sejarawan dan aktivis Papua. Beberapa poin penting yang diangkat antara lain:
- Eksploitasi sumber daya alam tanpa memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat lokal.
- Pelanggaran hak atas tanah tradisional yang mengakibatkan konflik lahan.
- Penggunaan kekerasan militer untuk menekan pergerakan kemerdekaan.
Selain menampilkan fakta historis, dokumenter ini juga menyoroti upaya masyarakat Papua saat ini untuk merebut kembali kedaulatan budaya dan ekonomi mereka.
Reaksi Publik dan Pemerintah
Setelah penayangan, film tersebut menuai beragam respons. Aktivis hak asasi manusia menilai film ini sebagai panggilan penting untuk introspeksi nasional, sementara beberapa pihak politik mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari polarisasi. Pemerintah pusat menyatakan akan meninjau kembali kebijakan pembangunan di Papua serta meningkatkan dialog dengan tokoh adat.
Harapan untuk Masa Depan
Dokumenter ini menginspirasi banyak orang untuk lebih mencintai dan melestarikan Papua sebagai tanah Indonesia tercinta. Diharapkan, melalui pengakuan atas sejarah kelam, proses rekonsiliasi dapat berjalan, sekaligus membuka peluang pembangunan berkelanjutan yang menghormati kearifan lokal.