Setapak Langkah – 21 Mei 2026 | Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang mulai diterapkan di sejumlah kabupaten dan kota di provinsi ini. Menurutnya, program tersebut tidak hanya menjawab tantangan pengelolaan sampah, tetapi juga berpotensi menambah pasokan listrik yang ramah lingkungan.
Program PSEL mengadopsi teknologi pembakaran termal dan proses pirolisis untuk mengubah sampah organik menjadi energi panas, yang selanjutnya diubah menjadi listrik melalui turbin generator. Pemerintah provinsi menargetkan instalasi pembangkit dengan kapasitas total 15 megawatt pada akhir tahun 2026, yang diharapkan dapat memasok listrik bagi sekitar 200.000 rumah tangga.
Berikut beberapa manfaat utama yang diharapkan dari program ini:
- Pengurangan volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) hingga 40%.
- Peningkatan ketersediaan energi listrik dari sumber terbarukan.
- Penciptaan lapangan kerja baru di sektor pengelolaan limbah dan energi.
- Penurunan emisi gas rumah kaca akibat pembakaran terbuka.
Data perkiraan produksi listrik dari beberapa lokasi pilot dapat dilihat pada tabel berikut:
| Lokasi | Kapasitas Terpasang (MW) | Produksi Listrik Tahunan (MWh) |
|---|---|---|
| Kab. Kendal | 5 | 43.800 |
| Kab. Grobogan | 4 | 35 040 |
| Kota Semarang | 6 | 52 560 |
Dalam pernyataannya, Mohammad Saleh menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menjamin keberlanjutan proyek. Ia juga mengusulkan pembentukan tim koordinasi khusus yang akan memantau pelaksanaan, mengatasi hambatan teknis, serta memastikan standar lingkungan terpenuhi.
Jika berhasil, inisiatif ini dapat menjadi model bagi provinsi lain di Indonesia dalam mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan produksi energi bersih, sekaligus mendukung agenda nasional pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.