Setapak Langkah – 20 Mei 2026 | Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Adityo Nugroho, menegaskan bahwa pasar keuangan global kini berada pada fase volatilitas tinggi. Kondisi ini dipicu oleh rangkaian faktor makroekonomi, termasuk ketidakpastian kebijakan moneter di Amerika Serikat, tekanan inflasi di Eropa, serta gejolak geopolitik yang terus berlanjut.
Berbagai indikator menunjukkan pergerakan harga aset yang tidak menentu. Indeks saham utama dunia mencatat fluktuasi harian yang signifikan, sementara pasar obligasi mengalami penurunan nilai yang berulang-ulang. Di sisi lain, nilai tukar mata uang emerging market, termasuk Rupiah, tertekan oleh aliran modal keluar yang mencari perlindungan di aset safe‑haven seperti dolar AS dan emas.
- Diversifikasi aset lintas kelas, menggabungkan saham, obligasi, dan instrumen pasar uang.
- Mengurangi eksposur pada sektor yang sangat sensitif terhadap siklus ekonomi global, seperti energi dan logam.
- Menjaga likuiditas yang cukup untuk menanggapi pergerakan pasar yang cepat.
- Memantau kebijakan bank sentral, khususnya keputusan suku bunga Bank Indonesia yang dapat mempengaruhi biaya pinjaman.
Selain itu, Nugroho menyoroti pentingnya memperhatikan fundamental perusahaan. Meskipun volatilitas tinggi dapat menciptakan peluang beli pada saham yang undervalued, investor harus memastikan bahwa perusahaan memiliki neraca yang kuat, arus kas positif, dan prospek pertumbuhan yang berkelanjutan.
Ke depan, prospek pasar masih dipengaruhi oleh dua faktor utama: perkembangan kebijakan moneter di Amerika Serikat dan dinamika geopolitik di kawasan Asia‑Pasifik. Jika Federal Reserve melanjutkan pengetatan kebijakan, tekanan pada likuiditas global dapat berlanjut, sementara ketegangan di Laut China Selatan atau konflik di Timur Tengah dapat memicu lonjakan volatilitas tambahan.
Dalam konteks Indonesia, Mirae Asset menilai bahwa ekonomi domestik tetap berada pada jalur pertumbuhan yang solid berkat konsumsi rumah tangga yang kuat dan investasi infrastruktur yang berkelanjutan. Namun, ketergantungan pada aliran modal asing menjadikan pasar domestik rentan terhadap goncangan eksternal.
Secara keseluruhan, Nugroho menyarankan investor untuk mengadopsi pendekatan yang disiplin, mengandalkan analisis berbasis data, dan tidak terjebak pada sentimen pasar jangka pendek. Dengan demikian, portofolio dapat tetap tahan banting di tengah fase volatilitas tinggi yang diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa kuartal mendatang.