Setapak Langkah – 20 Mei 2026 | Martalena Manalu, pemilik usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Aivah yang berlokasi di Pardede Onan, Balige, Sumatera Utara, berhasil mengubah tantangan ekologis menjadi peluang ekonomi dengan mengolah ikan invasif Red Devil yang mengancam ekosistem Danau Toba menjadi camilan gurih.
Red Devil (nama ilmiah Channa micropeltes) merupakan spesies predator cepat berkembang biak dan tidak memiliki musuh alami di perairan Danau Toba. Populasi yang terus meningkat menyebabkan penurunan populasi ikan endemik dan mengganggu keseimbangan rantai makanan. Pemerintah daerah dan lembaga konservasi telah menggalakkan program penangkapan massal, namun solusi jangka panjang tetap diperlukan.
Melihat peluang tersebut, Martalena merancang proses pengolahan yang memanfaatkan daging ikan Red Devil menjadi makanan ringan bernama “Keripik Red Devil”. Proses produksi meliputi lima tahapan utama:
- Penangkapan dan penyortiran: Ikan ditangkap menggunakan jaring khusus, dibersihkan, dan dipisahkan berdasarkan ukuran.
- Pencucian dan pemotongan: Daging dipisahkan dari tulang, dicuci bersih, lalu dipotong tipis menyerupakan keripik.
- Marinasi: Potongan ikan direndam dalam campuran bumbu tradisional Sumatera Utara (cabai, bawang merah, bawang putih, dan rempah lokal) selama 30 menit.
- Pengecangan: Potongan yang sudah termarin dikeringkan dengan oven suhu 80°C selama 45 menit untuk mengurangi kadar air.
- Penggorengan ringan: Keripik dipanggang kembali pada suhu 180°C selama 5 menit hingga berwarna keemasan dan renyah.
Produk akhir memiliki tekstur renyah, rasa pedas gurih, serta kandungan protein tinggi. Berikut adalah perkiraan nilai gizi per 100 gram keripik Red Devil:
| Nutrisi | Kandungan |
|---|---|
| Kalori | 210 kkal |
| Protein | 18 g |
| Lemak | 12 g |
| Karbohidrat | 9 g |
| Serat | 2 g |
Keberhasilan produk ini tidak hanya membuka pasar baru bagi UMKM setempat, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pengendalian populasi ikan invasif. Setiap kilogram keripik yang terjual diperkirakan mengurangi populasi Red Devil sekitar 1,5 kilogram, menurut data internal Aivah.
Martalena menargetkan distribusi ke pasar regional dan wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba. Ia berharap model bisnis ini dapat direplikasi di wilayah lain yang menghadapi masalah ikan invasif, sehingga sekaligus mendukung konservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan petani ikan lokal.