Setapak Langkah – 18 Mei 2026 | Pagi di sebuah tempat penampungan sementara (TPS) di Kota Surabaya kini tampak berbeda. Dulu hanya tumpukan botol air mineral dan gelas yang berserakan, kini area tersebut dipenuhi rak‑rak daur ulang, mesin pemilah otomatis, dan petugas yang sibuk mengumpulkan material yang dapat diproses kembali.
Program “Kota yang Memungut Masa Depan” yang diluncurkan Pemerintah Daerah pada awal tahun ini menargetkan pengurangan sampah akhir‑tata‑cara sebesar 30 % dalam lima tahun ke depan. Inisiatif ini menggabungkan teknologi sensor IoT untuk memantau tingkat kepenuhan TPS, sistem insentif digital bagi warga yang menyetor sampah terpilah, serta kerja sama dengan perusahaan daur ulang lokal.
Berikut rangkuman pencapaian tiga bulan pertama pelaksanaan program:
| Bulan | Ton Sampah Terpilah | Ton Sampah Plastik | Insentif Diberikan (juta IDR) |
|---|---|---|---|
| Januari | 12,5 | 8,2 | 1,8 |
| Februari | 14,7 | 9,5 | 2,1 |
| Maret | 16,3 | 10,1 | 2,4 |
Data tersebut menunjukkan tren positif, terutama pada peningkatan partisipasi warga dalam memisahkan botol plastik dan kaca. Dengan sistem poin yang terintegrasi ke aplikasi e‑wallet, masing‑masing rumah tangga dapat menukarkan poin dengan voucher belanja atau pembayaran listrik.
Keberhasilan inisiatif ini tidak lepas dari peran aktif komunitas lingkungan, sekolah, dan pelaku usaha. Sekolah‑sekolah di Surabaya mengadakan lomba daur ulang, sementara pasar tradisional diberi fasilitas kontainer khusus. Selain mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, program ini menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan limbah.
Para pakar menilai bahwa langkah ini merupakan contoh konkret kota “smart” yang mengintegrasikan teknologi, ekonomi sirkular, dan edukasi publik. Jika berhasil direplikasi di kota lain, model Surabaya dapat menjadi blueprint nasional untuk mengatasi tantangan sampah yang semakin mendesak.