Setapak Langkah – 18 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah Indonesia melemah hingga Rp17.671 per dolar Amerika Serikat, mencatat level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan ini memicu keprihatinan di kalangan ekonom yang menyoroti kombinasi tekanan eksternal dan faktor domestik.
Berikut faktor‑faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar:
- Tekanan global: Kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut, serta ketidakpastian geopolitik yang menekan sentimen pasar.
- Harga komoditas: Penurunan harga komoditas ekspor utama Indonesia, seperti batu bara dan kelapa sawit, mengurangi aliran devisa.
- Risiko domestik: Defisit anggaran yang masih tinggi, ketergantungan pada pembiayaan eksternal, serta volatilitas pasar modal dalam negeri.
Para ekonom memperingatkan bahwa depresiasi rupiah dapat menambah beban inflasi, terutama pada barang impor seperti bahan bakar dan pangan. Dampaknya berpotensi menurunkan daya beli masyarakat dan meningkatkan tekanan pada kebijakan moneter Bank Indonesia.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau pergerakan nilai tukar dan menyiapkan langkah penstabilan, termasuk intervensi pasar bila diperlukan. Sementara itu, pemerintah diminta memperkuat fondasi fiskal melalui pengendalian belanja dan peningkatan efisiensi penerimaan pajak.
Secara keseluruhan, situasi nilai tukar rupiah mencerminkan tantangan ekonomi yang bersifat ganda—baik dari faktor eksternal yang sulit dikendalikan maupun kebijakan dalam negeri yang masih harus disempurnakan.