Setapak Langkah – 04 Mei 2026 | Kementerian Kebudayaan menegaskan bahwa film tidak sekadar menjadi produk komersial, melainkan berfungsi sebagai sarana utama untuk mengekspresikan budaya Indonesia serta sebagai instrumen diplomasi yang efektif.
Dalam konferensi pers yang diselenggarakan pada Rabu, Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa sinema memiliki kemampuan unik untuk menampilkan nilai‑nilai, tradisi, dan keanekaragaman budaya kepada audiens internasional, sehingga memperkuat citra positif Indonesia di mata dunia.
Beberapa poin strategis yang disorot antara lain:
- Ekspresi Budaya: Film menampilkan cerita, adat, bahasa, dan estetika lokal yang dapat memperkaya pemahaman global tentang identitas Indonesia.
- Diplomasi Soft Power: Karya sinematik menjadi alat diplomasi tidak resmi yang membuka dialog budaya antarnegara.
- Pengembangan Industri Kreatif: Dukungan terhadap produksi film meningkatkan lapangan kerja, investasi, dan inovasi teknologi di sektor kreatif.
- Pemasyarakatan Nilai Nasional: Film dapat menyampaikan pesan moral dan nilai kebangsaan yang relevan dengan generasi muda.
Menteri menambahkan bahwa pemerintah akan memperkuat kebijakan pendanaan, pelatihan sumber daya manusia, serta kerjasama internasional untuk memperluas distribusi film Indonesia di festival dan platform global. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri film serta menumbuhkan rasa kebanggaan nasional melalui karya-karya yang berkualitas.
Dengan menempatkan film pada posisi strategis, Kemenbud berharap sinema tidak hanya menjadi sumber hiburan, melainkan juga menjadi jembatan budaya yang menghubungkan Indonesia dengan komunitas internasional.