Setapak Langkah – 30 April 2026 | Ibu Amaliyah, seorang warga Kampung Masigit, berhasil mengubah sampah menjadi peluang usaha yang menginspirasi banyak orang. Dengan dukungan Program Nasional Mitra (PNM), ia mengembangkan usaha daur ulang yang tidak hanya mengurangi volume limbah, tetapi juga memberikan pendapatan tambahan bagi keluarganya.
Berawal dari keprihatinan atas penumpukan sampah di lingkungan, Ibu Amaliyah memanfaatkan bahan organik seperti sisa sayuran, kulit buah, dan limbah dapur untuk diproses menjadi kompos berkualitas. Proses tersebut melibatkan beberapa tahapan sederhana yang dapat diikuti oleh warga lain:
- Mengumpulkan sampah organik secara terpisah setiap hari.
- Menggiling atau menghancurkan bahan menjadi ukuran kecil.
- Menambahkan bahan pengikat (seperti sekam padi) dan menjaga kelembaban.
- Mengompos selama 4-6 minggu sambil membalik secara berkala.
- Menjual kompos ke petani lokal atau menggunakan untuk kebun pribadi.
Dengan pendampingan teknis dari PNM, Ibu Amaliyah memperoleh pelatihan tentang teknik pengomposan yang efisien serta akses modal awal sebesar Rp5 juta. Selama enam bulan pertama, produksi komposnya meningkat dari 200 kg menjadi 1.200 kg per bulan, menurunkan volume sampah rumah tangga di kampung hingga 45 persen.
| Bulan | Produksi Kompos (kg) | Pengurangan Sampah (%) |
|---|---|---|
| Juli | 200 | 10 |
| Agustus | 400 | 20 |
| September | 700 | 30 |
| Oktober | 1.000 | 38 |
| November | 1.200 | 45 |
Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan Ibu Amaliyah sebesar sekitar 30 persen, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan di antara warga. Banyak tetangga yang kini bergabung dalam program daur ulang, mengurangi penggunaan kantong plastik, dan berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih kampung.
PNM menegaskan bahwa model usaha seperti ini dapat direplikasi di daerah lain dengan tantangan limbah serupa. Dukungan lanjutan berupa pelatihan pemasaran dan peningkatan jaringan distribusi kompos diharapkan dapat memperluas dampak ekonomi serta lingkungan.
Dengan semangat inovasi dan gotong-royong, Ibu Amaliyah membuktikan bahwa sampah tidak harus menjadi beban, melainkan dapat menjadi berkah bagi komunitas.