Setapak Langkah – 18 April 2026 | Menteri Luar Negeri Palestina, Varsen Aghabekian, menyampaikan pada Jumat bahwa situasi di Jalur Gaza semakin memprihatinkan akibat serangan yang terus berlangsung. Ia menegaskan bahwa kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut telah mencapai titik kritis, dengan kebutuhan dasar seperti air bersih, listrik, dan bantuan medis yang sangat terbatas.
Aghabekian menyoroti bahwa blokade yang diberlakukan Israel bersama dengan operasi militer intensif telah memperparah krisis. Menurutnya, lebih dari 30.000 warga sipil telah tewas dan ribuan lainnya terluka, sementara lebih dari 1,5 juta orang terpaksa mengungsi ke daerah yang sudah padat penduduk.
Berikut beberapa poin utama yang diangkat oleh Menteri Luar Negeri Palestina:
- Penurunan drastis pasokan listrik, dengan jaringan listrik hanya beroperasi pada 2-3 jam per hari.
- Kekurangan air bersih yang memaksa warga mengandalkan sumber air yang terkontaminasi.
- Rumah sakit yang kelebihan beban, menghadapi kekurangan obat-obatan, ventilator, dan tenaga medis.
- Ancaman kelaparan yang meningkat, mengingat banyaknya pasar dan toko yang hancur.
Ia menuntut komunitas internasional untuk segera meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Israel serta mempercepat proses penyaluran bantuan kemanusiaan. Aghabekian menambahkan bahwa tanpa intervensi yang kuat, situasi di Gaza dapat berubah menjadi bencana kemanusiaan yang lebih luas.
Selain itu, Menteri Luar Negeri Palestina mengajak negara‑negara di seluruh dunia untuk menegakkan resolusi PBB yang menuntut penghentian agresi dan penarikan pasukan dari wilayah pendudukan. Ia menekankan pentingnya koordinasi antara lembaga bantuan, organisasi non‑pemerintah, dan donor agar bantuan dapat sampai tepat sasaran.
Dengan kondisi yang semakin memburuk, Aghabekian menutup pernyataannya dengan seruan tegas: “Kami tidak dapat menunggu lagi. Dunia harus bertindak sekarang, demi menyelamatkan nyawa jutaan orang di Gaza.”