Setapak Langkah – 18 April 2026 | Aksi serentak yang melibatkan aktivis dari 20 negara digelar di depan kantor World Bank di Jakarta dengan nama Act for Farmed Animals (AFFA). Gerakan ini diprakarsai oleh koalisi Stop Financing Factory Farming (S3F) yang menuntut lembaga keuangan internasional, khususnya World Bank, menghentikan alokasi dana sebesar Rp140 triliun untuk mendukung peternakan intensif.
Peternakan intensif, atau factory farming, mengandalkan sistem produksi massal dengan kepadatan ternak yang sangat tinggi. Praktik ini seringkali menimbulkan dampak negatif seperti pencemaran air dan udara, deforestasi, serta pelanggaran hak kesejahteraan hewan. Selain itu, model ini menambah risiko penyebaran penyakit zoonotik dan menurunkan ketahanan pangan jangka panjang.
Koalisi S3F menuntut World Bank untuk:
- Menghentikan semua bentuk pembiayaan yang mendukung peternakan intensif.
- Mengalihkan dana ke program pertanian berkelanjutan yang mendukung peternak kecil.
- Mengintegrasikan standar kesejahteraan hewan dalam semua kebijakan pembiayaan.
- Menyediakan mekanisme pengawasan independen untuk memastikan kepatuhan.
Pemerintah Indonesia menyatakan akan meninjau kembali kebijakan pendanaan peternakan yang melibatkan lembaga keuangan internasional. Sementara itu, perwakilan World Bank mengakui pentingnya dialog dengan para pemangku kepentingan, namun belum memberikan keputusan final terkait penarikan dana tersebut.
Implikasi ekonomi dari penghentian dana ini dapat berdampak pada sektor agribisnis, terutama bagi perusahaan besar yang bergantung pada kredit internasional. Di sisi lain, peralihan ke model pertanian berkelanjutan diperkirakan dapat membuka peluang pasar baru, meningkatkan nilai tambah produk lokal, dan mengurangi beban lingkungan.
Negara‑negara yang berpartisipasi dalam aksi ini meliputi:
- Indonesia
- India
- Brasil
- Amerika Serikat
- Australia
- Kanada
- Jerman
- Prancis
- Inggris
- Belanda
- Spanyol
- Swedia
- Norwegia
- Denmark
- Jepang
- Korea Selatan
- Thailand
- Vietnam
- Meksiko
- Argentina
Protes ini menandai peningkatan kesadaran global terhadap dampak peternakan intensif dan menekankan kebutuhan akan kebijakan keuangan yang lebih berkelanjutan. Pengawasan lebih ketat terhadap aliran dana internasional diharapkan dapat mempercepat transisi menuju sistem pangan yang lebih ramah lingkungan dan memperhatikan kesejahteraan hewan.