Setapak Langkah – 18 April 2026 | Kementerian Pertahanan Republik Indonesia kembali menegaskan bahwa opsi pembelian 24 unit pesawat tempur Rafale buatan Prancis masih berada dalam fase kajian intensif. Pemeriksaan meliputi aspek teknis, finansial, serta dampak strategis bagi kemampuan pertahanan udara nasional.
Beberapa faktor utama yang menjadi fokus evaluasi meliputi:
- Kompatibilitas operasional: Analisis kemampuan Rafale untuk berintegrasi dengan sistem persenjataan dan infrastruktur yang sudah ada di TNI‑AU.
- Biaya total kepemilikan: Estimasi harga satu unit, biaya pemeliharaan, pelatihan pilot, serta dukungan logistik selama masa pakai.
- Waktu pengiriman: Jadwal produksi dan serah terima yang diharapkan, mengingat kebutuhan modernisasi alutsista yang mendesak.
- Transfer teknologi: Potensi perjanjian kerja sama yang memungkinkan transfer pengetahuan teknis dan produksi komponen di dalam negeri.
Pengkajian ini berlangsung beriringan dengan program modernisasi alutsista lainnya, seperti pembelian pesawat tempur generasi berikutnya dan pengembangan sistem pertahanan udara berbasis radar dan rudal jarak jauh. Keputusan akhir diperkirakan akan diumumkan pada akhir tahun fiskal ini, setelah mendapat persetujuan dari Dewan Pengawas Keuangan (DPK) dan pertimbangan strategis dari Presiden.
Para analis militer menilai bahwa akuisisi Rafale dapat meningkatkan kemampuan supersonik, stealth, serta fleksibilitas dalam operasi multi‑role, mulai dari intersepsi udara hingga serangan darat presisi. Namun, mereka juga mengingatkan perlunya kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk pangkalan udara yang dapat menampung ukuran dan kebutuhan logistik pesawat tersebut.
Dengan demikian, proses kajian yang sedang berjalan tidak hanya menilai aspek teknis, melainkan juga menimbang implikasi ekonomi, geopolitik, dan kedaulatan pertahanan Indonesia ke depan.