Setapak Langkah – 15 April 2026 | BMKG menegaskan bahwa musim kemarau tahun 2026 diproyeksikan menjadi yang paling kering dalam tiga dekade terakhir, berdasarkan analisis data curah hujan sejak 1996.
Proyeksi tersebut didasarkan pada model iklim regional yang menggabungkan data observasi stasiun meteorologi, satelit, dan indikator suhu permukaan. Hasilnya menunjukkan penurunan curah hujan rata‑rata sebesar 12‑15 % dibandingkan dengan nilai rata‑rata 30‑tahun.
| Tahun | Curah Hujan (mm) |
|---|---|
| 1996‑2005 | 850 |
| 2006‑2015 | 820 |
| 2016‑2025 | 795 |
| 2026 (proyeksi) | 680 |
Penurunan curah hujan ini diperkirakan akan menimbulkan sejumlah dampak, antara lain:
- Kekurangan air bersih di daerah perkotaan dan pedesaan.
- Penurunan hasil pertanian, terutama padi dan jagung.
- Peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.
- Penurunan aliran sungai yang dapat memengaruhi pembangkit listrik tenaga air.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, sektor pertanian, serta masyarakat umum untuk mempersiapkan langkah mitigasi, seperti pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, penerapan teknik irigasi tetes, dan peningkatan kesiapsiagaan terhadap kebakaran.
Selain itu, instansi terkait diharapkan memperkuat jaringan pemantauan cuaca dengan menambah jumlah stasiun pengukuran dan meningkatkan kemampuan prediksi jangka pendek.
Dengan langkah‑langkah proaktif, diharapkan dampak negatif musim kemarau 2026 dapat diminimalisir, menjaga keseimbangan ekosistem serta ketahanan pangan nasional.