Setapak Langkah – 14 April 2026 | ReforMiner Institute baru-baru ini merilis studi simulasi yang menelaah lima skenario kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia serta konsekuensinya bagi inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan anggaran negara.
Skenario tersebut menggambarkan kenaikan harga BBM sebesar 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25% dibandingkan harga saat ini. Setiap level kenaikan dianalisis melalui tiga variabel kunci: tingkat inflasi tahunan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), serta defisit APBN yang diproyeksikan.
| Skenario | Kenaikan Harga BBM | Inflasi (%) | Pertumbuhan PDB (%) | Defisit APBN (% dari PDB) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | 5 % | +0,8 | +5,2 | 3,5 |
| 2 | 10 % | +1,5 | +4,8 | 4,1 |
| 3 | 15 % | +2,2 | +4,3 | 4,9 |
| 4 | 20 % | +3,0 | +3,7 | 5,8 |
| 5 | 25 % | +3,9 | +3,0 | 6,7 |
Hasil simulasi menunjukkan bahwa kenaikan BBM secara linear meningkatkan tekanan inflasi. Pada skenario terendah (5 %), inflasi diproyeksikan naik kurang dari satu poin persentase, sementara pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 %. Namun, pada skenario tertinggi (25 %), inflasi dapat melambung hampir 4 % dan pertumbuhan ekonomi turun menjadi 3 %, menandakan risiko perlambatan signifikan.
Dari sisi fiskal, defisit APBN diperkirakan melebar seiring naiknya subsidi bahan bakar dan penurunan penerimaan pajak konsumsi. Pada skenario 25 % kenaikan harga, defisit dapat mencapai 6,7 % dari PDB, menambah beban utang publik.
Para analis menilai bahwa kebijakan penyesuaian harga BBM harus diimbangi dengan langkah-langkah kompensasi, seperti peningkatan subsidi sosial bagi kelompok rentan, reformasi pajak, dan stimulasi investasi produktif untuk menahan laju inflasi.
Secara keseluruhan, simulasi ReforMiner Institute memberikan kerangka kerja bagi pembuat kebijakan untuk menilai trade‑off antara kebutuhan fiskal dan stabilitas makroekonomi dalam menghadapi fluktuasi harga energi global.