Setapak Langkah – 14 April 2026 | Kelas menengah Indonesia terus mengalami pertumbuhan angka, namun kebanyakan rumah tangga di segmen ini masih bergantung pada pendapatan yang fluktuatif. Hal ini membuat mereka hanya dapat memenuhi kebutuhan pokok harian seperti pangan, transportasi, dan tagihan listrik.
Beberapa faktor utama yang menyebabkan ketidakstabilan pendapatan antara lain:
- Ketergantungan pada pekerjaan kontrak atau paruh waktu yang tidak menjamin gaji tetap.
- Penurunan nilai tukar dan inflasi yang menggerogoti daya beli.
- Perubahan pola konsumsi yang menuntut pengeluaran lebih besar untuk layanan digital dan pendidikan.
Data survei BPS 2023 menunjukkan rata‑rata pendapatan bulanan kelas menengah berada pada kisaran Rp4‑7 juta, sementara total pengeluaran rata‑rata mencapai Rp5‑8 juta.
| Rentang Pendapatan (Rp) | Pengeluaran Rata‑Rata (Rp) | Surplus/Defisit |
|---|---|---|
| 4.000.000‑5.000.000 | 5.200.000 | -200.000 |
| 5.000.001‑6.000.000 | 5.800.000 | -800.000 |
| 6.000.001‑7.000.000 | 6.500.000 | -500.000 |
Akibatnya, tabungan rumah tangga kelas menengah masih berada di level rendah, hanya sekitar 10‑15 % dari pendapatan bersih. Mereka cenderung menunda pembelian aset besar seperti rumah atau kendaraan, dan lebih mengandalkan kredit konsumtif.
Pemerintah dan sektor swasta diharapkan dapat memperkuat kebijakan ketenagakerjaan, meningkatkan akses ke asuransi kesehatan, serta menyediakan program edukasi keuangan untuk membantu kelas menengah mengelola arus kas secara lebih efektif.