Setapak Langkah – 10 April 2026 | PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Vietnam Electricity (EVN) resmi memperkuat kerja sama dalam rangka mempercepat adopsi teknologi hidrogen sebagai sumber energi bersih di Asia Tenggara. Kesepakatan ini mencakup program benchmarking operasional pembangkit listrik, pertukaran pengetahuan teknis, serta pengembangan proyek percontohan hidrogen hijau.
Kolaborasi tersebut diarahkan pada tiga pilar utama:
- Inovasi produksi hidrogen: Mengoptimalkan elektroliser berkapasitas besar dengan memanfaatkan tenaga surya dan angin yang melimpah di wilayah tropis.
- Integrasi ke jaringan listrik: Mempelajari cara mengalirkan energi hidrogen ke pembangkit berbasis gas untuk meningkatkan fleksibilitas dan mengurangi emisi.
- Pengembangan kebijakan dan regulasi: Menyusun standar keamanan, tarif, dan insentif yang selaras dengan kebijakan energi nasional masing-masing negara.
Untuk menilai kesiapan teknis, PLN dan EVN menyusun matriks benchmarking yang meliputi indikator kunci seperti efisiensi konversi, biaya produksi per kilogram hidrogen, dan tingkat keberlanjutan operasional. Contoh perbandingan ditampilkan pada tabel berikut:
| Indikator | PLN (Indonesia) | EVN (Vietnam) |
|---|---|---|
| Efisiensi elektroliser | 68 % | 71 % |
| Biaya produksi (USD/kg) | 4,5 | 4,2 |
| Emisi CO2 (kg/kWh) | 0,02 | 0,015 |
Hasil benchmarking diharapkan menjadi acuan bagi perusahaan listrik lain di kawasan, sekaligus mempercepat terbentuknya rantai pasok hidrogen regional, mulai dari produksi, penyimpanan, distribusi, hingga pemanfaatan di sektor transportasi dan industri.
Para analis menilai bahwa sinergi antara PLN dan EVN dapat membuka peluang investasi sebesar puluhan miliar dolar, mengingat permintaan energi bersih di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh lebih dari 7 % per tahun hingga 2030. Keberhasilan program percontohan ini akan menjadi contoh bagi negara‑negara ASEAN lainnya dalam merancang kebijakan energi yang berkelanjutan.