Setapak Langkah – 10 April 2026 | Pengembangan kawasan Aerotropolis di Tangerang semakin mendekati realisasi, namun Ketua DPRD Kota Tangerang, Rusdi Alam, menekankan bahwa keberhasilan proyek tersebut sangat bergantung pada keberadaan jaringan transportasi publik yang memadai dan terintegrasi. Menurutnya, tanpa sistem transportasi yang dapat menghubungkan kawasan industri, perumahan, serta bandara secara efisien, potensi ekonomi Aerotropolis akan terhambat.
Beberapa poin penting yang diangkat dalam pernyataan tersebut antara lain:
- Kapasitas Jalan dan Angkutan: Infrastruktur jalan harus mampu menampung volume kendaraan yang meningkat, sekaligus menyediakan jalur khusus untuk bus rapid transit (BRT) atau kereta ringan.
- Integrasi Moda: Sistem bus, kereta, dan layanan transportasi berbasis aplikasi harus terhubung dalam satu platform tiket dan jadwal, memudahkan pergerakan penumpang antar moda.
- Aksesibilitas ke Bandara: Mengingat Aerotropolis berfokus pada zona sekitar bandara, penyediaan layanan shuttle atau LRT yang menghubungkan terminal bandara dengan pusat bisnis menjadi krusial.
- Pengurangan Kemacetan: Implementasi kebijakan pembatasan kendaraan pribadi di area strategis serta promosi penggunaan transportasi massal dapat menurunkan tingkat kemacetan.
- Pengembangan Infrastruktur Pendukung: Pembangunan halte, stasiun, dan fasilitas park-and-ride yang nyaman akan meningkatkan daya tarik transportasi publik.
Rusdi Alam juga mengingatkan pentingnya koordinasi lintas sektor antara pemerintah kota, provinsi, serta badan pengelola bandara. Sinergi tersebut diharapkan dapat menghasilkan perencanaan yang holistik, sehingga Aerotropolis tidak hanya menjadi zona industri modern, tetapi juga kawasan yang ramah mobilitas bagi pekerja, penduduk, dan pengunjung.
Jika langkah-langkah integrasi transportasi publik tidak segera diimplementasikan, risiko terjadinya kemacetan parah serta penurunan daya saing investasi dapat mengancam tujuan utama Aerotropolis, yaitu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.