Setapak Langkah – 06 April 2026 | Washington mengeluarkan ultimatum kepada Tehran, menuntut agar Selat Hormuz dibuka kembali dalam waktu dua hari ke depan setelah penutupan sebagian jalur laut tersebut terkait program nuklir Iran.
Ultimatum ini muncul di tengah peningkatan ketegangan di Timur Tengah, di mana Amerika Serikat menuduh Iran menggunakan penutupan selat sebagai tekanan politik untuk memaksa pembicaraan nuklir yang lebih menguntungkan bagi Tehran.
Jika Iran tidak memenuhi tenggat waktu 48 jam, Washington mengancam akan mengambil tindakan militer tambahan, termasuk kemungkinan pengiriman kapal perang ke zona strategis tersebut.
- Target utama: mengamankan aliran minyak mentah global yang sebagian besar melewati Selat Hormuz.
- Respon Iran: menyatakan bahwa penutupan bersifat sementara dan menolak campur tangan asing dalam urusan domestik.
- Dampak regional: meningkatkan risiko konfrontasi antara pasukan AS dan militer Iran di perairan dekat.
Pasokan minyak dunia diperkirakan terpengaruh signifikan. Berikut adalah perkiraan perubahan harga minyak mentah setelah ultimatum diumumkan:
| Komoditas | Harga Sebelum Ultimatum | Harga Setelah Ultimatum |
|---|---|---|
| Brent | $78 per barrel | $84 per barrel |
| WTI | $74 per barrel | $80 per barrel |
Para analis energi memperingatkan bahwa penutupan selat lebih dari 24 jam dapat menimbulkan gangguan pasokan yang meluas, menambah tekanan pada inflasi energi di negara‑negara importir.
Pemerintah Indonesia, sebagai salah satu konsumen minyak terbesar, memantau perkembangan ini dengan cermat dan menyiapkan langkah antisipasi untuk memastikan stabilitas pasokan energi nasional.
Dengan waktu yang semakin menipis, komunitas internasional menunggu respons Iran, sementara diplomasi multilateral berupaya menengahi agar jalur laut kembali beroperasi tanpa harus melibatkan aksi militer.