Setapak Langkah – 06 April 2026 | Bunga bangkai (Amorphophallus titanum) kembali mekar sempurna di Desa Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kejadian langka ini menarik perhatian wisatawan mancanegara yang rela menempuh perjalanan jauh demi menyaksikan fenomena alam yang hanya terjadi sekali dalam beberapa tahun.
Spesies ini dikenal dengan ukuran kolumnya yang dapat mencapai tiga meter dan bau busuk yang menyerupai daging busuk, yang berfungsi menarik penyerbuk alami seperti lalat dan kumbang. Mekar penuh biasanya berlangsung selama tiga sampai empat hari, sebelum kembali ke fase dormansi selama tiga sampai empat tahun.
Berikut beberapa data penting tentang siklus mekarnya bunga bangkai:
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Ukuran kolom | 2,5–3,5 meter |
| Waktu mekarnya | 3–4 hari |
| Interval siklus | 3–4 tahun |
| Habitat alami | Hutan tropis dataran rendah Sumatera Barat |
Keunikan mekarnya bunga ini menjadikan Koto Rantang sebagai destinasi wisata alam baru. Pada minggu pertama setelah mekarnya diumumkan, lebih dari seratus turis asing—termasuk dari Eropa, Asia, dan Amerika—datang ke lokasi untuk mengambil foto dan mempelajari proses biologisnya.
Pengunjung yang datang disarankan untuk memperhatikan hal-hal berikut:
- Gunakan pakaian yang nyaman dan sepatu yang cocok untuk medan berbukit.
- Ikuti petunjuk petugas taman agar tidak mengganggu habitat alami.
- Hindari membawa makanan berbau kuat yang dapat mempengaruhi bau alami bunga.
- Manfaatkan layanan pemandu lokal untuk penjelasan lebih mendalam tentang konservasi spesies.
Masuknya wisatawan asing memberi dampak positif bagi perekonomian setempat. Pendapatan dari tiket masuk, penjualan suvenir, serta layanan transportasi lokal meningkat signifikan, membantu warga desa meningkatkan taraf hidup. Pemerintah daerah menyiapkan program pelatihan bagi penduduk setempat agar dapat menjadi pemandu ekowisata yang terampil, sekaligus mengedukasi pentingnya pelestarian flora endemik.
Selain manfaat ekonomi, kehadiran wisatawan juga meningkatkan kesadaran nasional akan pentingnya melestarikan spesies langka ini. Upaya konservasi bersama antara komunitas lokal, lembaga penelitian, dan organisasi non‑pemerintah kini semakin kuat, dengan rencana penanaman bibit Amorphophallus titanum di kebun raya regional sebagai cadangan genetik.