Setapak Langkah – 26 April 2026 | Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan pada Jumat, 24 Mei, bahwa total biaya yang diperlukan untuk membangun kembali dan merehabilitasi sistem kesehatan di Jalur Gaza mencapai sekitar Rp172 triliun (setara dengan sekitar US$10 miliar). Angka tersebut mencerminkan skala kerusakan yang meluas akibat konflik berkepanjangan, termasuk penghancuran fasilitas medis, kekurangan peralatan, dan gangguan rantai pasokan obat-obatan.
WHO merinci beberapa komponen utama yang menjadi fokus pendanaan:
- Pembangunan kembali fasilitas medis: Renovasi atau konstruksi ulang rumah sakit, klinik primer, dan unit gawat darurat.
- Pengadaan peralatan dan obat-obatan: Alat diagnostik, ventilator, obat esensial, serta perlengkapan steril.
- Pemulihan rantai pasokan: Sistem logistik untuk memastikan distribusi bahan medis yang berkelanjutan.
- Dukungan kesehatan mental: Program konseling dan rehabilitasi bagi korban trauma.
- Pelatihan dan penempatan tenaga kesehatan: Pendidikan ulang dan penempatan kembali tenaga medis yang terdampak.
WHO menekankan pentingnya koordinasi internasional dalam menggalang dana. Organisasi tersebut menyerukan kontribusi dari negara donor, lembaga keuangan internasional, serta sektor swasta untuk menutup kesenjangan pembiayaan. Selain itu, WHO juga mengusulkan pembentukan mekanisme pemantauan transparan agar alokasi dana dapat dipastikan tepat sasaran.
Upaya rehabilitasi tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga mencakup pemulihan layanan kesehatan publik yang terputus. Dengan dukungan yang memadai, diharapkan sistem kesehatan Gaza dapat kembali berfungsi secara penuh, memberikan layanan yang aman dan berkualitas bagi seluruh penduduk, termasuk kelompok paling rentan seperti anak-anak, wanita hamil, dan orang lanjut usia.