Setapak Langkah – 26 Mei 2026 | Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung baru-baru ini menyoroti tiga tantangan utama yang menghambat pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia. Dalam sambutannya pada forum kebijakan fiskal, ia menekankan pentingnya diversifikasi sektor, peningkatan kualitas belanja, serta penguatan kapasitas institusi keuangan daerah.
1. Diversifikasi Ekonomi Daerah
Berbagai daerah masih sangat bergantung pada satu atau dua sektor unggulan, misalnya pertanian, pertambangan, atau pariwisata. Ketergantungan ini membuat daerah rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dan bencana alam. Juda mengusulkan langkah-langkah berikut:
- Mendorong pengembangan industri pendukung (upstream‑downstream) melalui insentif fiskal.
- Memperkuat ekosistem startup dengan mempermudah akses pendanaan daerah.
- Menjalin kemitraan dengan sektor swasta untuk transfer teknologi dan pengetahuan.
2. Kualitas Belanja Pemerintah Daerah
Belanja daerah yang tidak terarah dapat menurunkan efisiensi penggunaan anggaran. Juda menekankan perlunya:
- Pengawasan yang lebih ketat pada proyek infrastruktur melalui audit berbasis risiko.
- Penerapan sistem e‑procurement untuk transparansi dan akuntabilitas.
- Penilaian kinerja proyek berdasarkan indikator sosial‑ekonomi, bukan hanya nilai kontrak.
3. Penguatan Kapasitas Institusional
Manajemen keuangan daerah masih terhambat oleh kurangnya kompetensi teknis dan data yang terintegrasi. Solusi yang diusulkan meliputi:
- Pelatihan reguler bagi pejabat keuangan daerah tentang perencanaan fiskal dan pengelolaan utang.
- Pembangunan basis data terpadu untuk pemantauan real‑time penerimaan dan pengeluaran.
- Kolaborasi dengan lembaga riset untuk analisis kebijakan berbasis bukti.
Dengan mengimplementasikan langkah‑langkah di atas, diharapkan ekonomi daerah dapat bergerak lebih mandiri, inovatif, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.