Setapak Langkah – 27 Juli 2026 | Sejumlah video influencer asal Brasil yang mengkritik kelompok penggemar BTS (ARMY) kembali menjadi sorotan dunia maya setelah menimbulkan perdebatan sengit di media sosial. Dalam klip berdurasi singkat, sang influencer menyinggung kebiasaan ARMY yang dianggap berlebihan, memicu reaksi kemarahan jutaan netizen, terutama penggemar K‑pop dari Indonesia.
Video tersebut pertama kali diunggah pada hari Senin pagi dan dalam hitungan jam telah mengumpulkan lebih dari tiga juta tampilan serta puluhan ribu komentar. Sebagian besar komentar menyoroti rasa tidak hormat yang dirasakan terhadap BTS dan para pendukungnya, sementara sebagian kecil menilai kritik tersebut sebagai kebebasan berpendapat.
Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi fokus perdebatan:
- Penafsiran negatif terhadap semangat solidaritas ARMY.
- Penggunaan istilah yang dianggap menjelek‑jelekkan budaya K‑pop.
- Pengaruh video terhadap citra artis Korea Selatan di mata publik internasional.
- Respons resmi dari agensi BTS yang menegaskan pentingnya menghormati penggemar.
Agensi BTS, Big Hit Music, menanggapi insiden ini dengan pernyataan singkat melalui akun media sosial resmi mereka, menekankan bahwa kritik yang mengandung unsur kebencian tidak dapat diterima. Mereka juga mengajak para netizen untuk berdialog secara konstruktif tanpa menyinggung identitas kelompok tertentu.
Berikut rangkaian kronologi singkat peristiwa tersebut:
| Waktu | Peristiwa |
|---|---|
| 09.00 WIB, Senin | Video influencer diunggah ke platform video populer. |
| 12.00 WIB, Senin | Video mulai viral, mencapai 1 juta tayangan. |
| 15.30 WIB, Senin | Netizen ARMY mengirimkan balasan kritis secara massal. |
| 18.00 WIB, Senin | Big Hit Music merilis pernyataan resmi. |
| 20.45 WIB, Senin | Video mencapai 3,2 juta tayangan, komentar negatif mendominasi. |
Insiden ini menegaskan kembali betapa kuatnya komunitas ARMY dalam mempertahankan citra artis favorit mereka. Di era digital, setiap konten yang menyentuh fandom besar dapat dengan cepat menjadi bahan perdebatan luas, memengaruhi reputasi pribadi maupun institusi terkait.
Meski kritik terhadap perilaku penggemar memang sah, para pembuat konten diharapkan dapat menyampaikan pendapat dengan cara yang tidak menimbulkan provokasi kebencian. Hal ini penting untuk menjaga ekosistem digital yang sehat serta menghindari eskalasi konflik yang dapat merugikan semua pihak.