histats

Senegal Parade AFCON Trophy Amid Controversy, Defeat Peru 2‑0 in Spectacular Friendly at Stade de France

Senegal Parade AFCON Trophy Amid Controversy, Defeat Peru 2‑0 in Spectacular Friendly at Stade de France

Setapak Langkah – 29 Maret 2026 | Stade de France menjadi saksi dua kisah sekaligus pada Sabtu, 28 Maret 2026: sebuah protes simbolis dari timnas Senegal terhadap keputusan CAF dan penampilan mengesankan yang mengantarkan mereka menjuarai laga persahabatan melawan Peru dengan skor 2‑0. Acara yang penuh emosi ini tidak hanya menampilkan aksi di lapangan, tetapi juga pertarungan di luar lapangan antara federasi sepak bola Afrika dan tim yang merasa telah direnggut gelar mereka.

Kontroversi Piala AFCON

Setelah meraih kemenangan dramatis atas tuan rumah turnamen, Maroko, pada final AFCON Januari lalu, Senegal sempat melangkah keluar lapangan menyusul penalti kontroversial. Keputusan CAF kemudian membatalkan hasil tersebut, memberi kemenangan 3‑0 kepada Maroko melalui walk‑over. Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport (CAS), namun hingga pertandingan melawan Peru belum ada putusan akhir.

Untuk menegaskan klaim mereka sebagai juara sah, kapten Senegal, Kalidou Koulibaly, membawa trofi AFCON ke tengah stadion. Bersama kiper Edouard Mendy, ia mengangkat trofi dan menampilkan dua bintang di atas lambang tim, melambangkan gelar 2021 dan 2022 (yang dipersengketakan). Seluruh skuad berkeliling empat sudut stadion, berfoto bersama, dan mengajak suporter bersorak, menegaskan bahwa kemenangan mereka “diperoleh di lapangan, bukan di ruang rapat”.

Detail Pertandingan

Pertandingan persahabatan dimulai pukul 12.00 siang ET (19.00 WIB) dengan 80.000 penonton mengisi tribun. Senegal menurunkan susunan pemain yang menampilkan kombinasi veteran dan talenta muda, termasuk pemain PSG yang memulai laga. Di lini depan, Mamadou Sarr menjadi bintang utama. Pada menit ke‑23, Sarr memanfaatkan umpan terobosan Ibrahim Mbaye dan menembak ke sudut bawah gawang Peru, membuka skor 1‑0.

Setelah jeda singkat, Senegal meningkatkan tekanan. Pada menit ke‑41, Sarr kembali mencetak gol kedua setelah menerima umpan silang dari Pape Gueye. Gol ini menambah keunggulan 2‑0 dan menjadi titik balik yang menegaskan dominasi Senegal di babak pertama.

Peru, yang dipimpin oleh pelatih Mano Menezes, berusaha bangkit dengan serangan balik, namun kiper Mendy melakukan beberapa penyelamatan krusial, termasuk satu tekel spektakuler dari Ibrahim Mbaye yang hampir menambah gol ketiga bagi Senegal. Kedua tim tidak mencetak gol tambahan pada babak kedua, sehingga skor akhir tetap 2‑0 untuk Senegal.

Reaksi Pelatih dan Pemain

Setelah laga, pelatih Senegal Pape Thiaw menegaskan fokus tim tetap pada performa di lapangan. “Semua orang tahu kami adalah juara Afrika. Kami tidak ingin terganggu oleh politik, yang penting kami bermain dengan hati,” ujar Thiaw dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa tim akan terus berjuang untuk meraih trofi lain, termasuk persiapan menuju Piala Dunia 2026.

Gelandang Everton, Idrissa Gueye, menambahkan, “Emosi yang kami rasakan tidak bisa dibeli. Kami berjuang di lapangan dan layak menjadi juara. Kami juga akan berjuang di luar lapangan untuk menegaskan hak kami.”

Mano Menezes, pelatih Peru, mengakui keunggulan lawan dan menyatakan, “Kami selalu menghormati apa yang terjadi di lapangan. Menghadapi juara Afrika memberi kami pengalaman berharga untuk perbaikan ke depan.”

Protes Visual di Lapangan

Selain parade trofi, tim Senegal menampilkan seragam baru dengan dua bintang di atas lambang, menegaskan dua gelar yang mereka klaim. Seluruh pemain berbaris bersama suporter, membawa bendera Senegal, dan mengangkat trofi sekali lagi sebelum kembali ke ruang ganti. Gestur ini memperkuat pesan politik olahraga yang menggelora di antara para penggemar dan media internasional.

Para ahli menyimpulkan bahwa aksi tersebut bukan sekadar simbol, melainkan strategi untuk menambah tekanan pada CAF agar mempercepat keputusan di CAS. Sementara itu, FIFA tetap netral, menekankan bahwa keputusan kompetisi berada di bawah wewenang konfederasi masing‑masing.

Dengan kemenangan 2‑0, Senegal menunjukkan bahwa meskipun berada dalam pertempuran hukum, performa mereka di lapangan tetap solid. Peru, di sisi lain, harus mengevaluasi taktik mereka menjelang fase kualifikasi Piala Dunia 2026, mengingat kegagalan mereka masuk pada siklus sebelumnya.

Pertandingan ini sekaligus menandai pembukaan jendela internasional FIFA untuk kedua negara, menyoroti perbedaan tujuan: Senegal berambisi memperkuat posisi sebagai kekuatan Afrika menjelang Piala Dunia, sementara Peru berusaha bangkit dari kegagalan kualifikasi dan menata kembali skuad di bawah arahan Mano Menezes.

Secara keseluruhan, laga ini tidak hanya memberikan hiburan sport, tetapi juga menyuarakan ketegangan politik dalam dunia sepak bola Afrika, memperlihatkan bagaimana simbol-simbol dapat menjadi arena pertempuran selain lapangan hijau.

Avatar for Setapak Langkah
Setapak Langkah Portal setapak langkah lahir untuk mengajak semua orang menikmati keindahan bumi pertiwi. Mulai dari Wisata alamnya yang manakjubkan, situs wisata sejarah yang penuh makna dan kuliner-kuliner nusantara yang nikmat rasanya.
Avatar for Setapak Langkah
Setapak Langkah Portal setapak langkah lahir untuk mengajak semua orang menikmati keindahan bumi pertiwi. Mulai dari Wisata alamnya yang manakjubkan, situs wisata sejarah yang penuh makna dan kuliner-kuliner nusantara yang nikmat rasanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *