Setapak Langkah – 26 April 2026 | Pada pukul 03.00 WIB, saat kebanyakan penduduk masih terlelap, puluhan warga Badui Dalam berbaris rapi menapaki jejak tradisi yang telah diwariskan turun‑temurun. Kegiatan ini bukan sekadar ritual pagi, melainkan bagian penting dari upaya mempertahankan identitas budaya suku Badui yang hidup mandiri di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun‑Salak.”
Ritual “Seba” dimulai dengan pembacaan doa bersama, diikuti oleh prosesi berjalan melingkar mengelilingi hutan. Setiap langkah diiringi nyanyian tradisional yang mengisahkan legenda leluhur, sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada alam sekitar. Selama proses, warga mengumpulkan bahan‑bahan alami seperti daun sirih, kayu bakar, dan batu kerikil yang nantinya akan dipergunakan dalam upacara selanjutnya.
Beberapa faktor utama yang menjadikan tradisi ini tetap hidup antara lain:
- Kehidupan komunal: Badui Dalam menerapkan sistem gotong‑royong yang kuat, sehingga setiap anggota komunitas memiliki peran jelas dalam persiapan dan pelaksanaan Seba.
- Keterikatan pada alam: Tanah dan hutan dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas suku, sehingga pelestarian lingkungan menjadi inti dari setiap upacara.
- Pengawasan internal: Para tetua dan pemuka adat secara ketat mengawasi kepatuhan terhadap tata cara tradisi, mencegah terjadinya perubahan yang mengganggu nilai asli.
Namun, tradisi ini tidak lepas dari tantangan. Tekanan modernisasi, migrasi pemuda ke kota, serta kebijakan pembangunan di sekitar kawasan konservasi dapat mengikis semangat kebersamaan. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah daerah dan LSM lingkungan mulai menggandeng Badui Dalam dalam program edukasi dan pelatihan. Upaya ini meliputi penyediaan sarana dokumentasi tradisi, pelatihan pemuda tentang nilai budaya, serta penguatan ekonomi lokal melalui ekowisata berbasis budaya.
Ke depan, warga Badui Dalam berharap tradisi Seba tidak hanya menjadi jejak nostalgia, melainkan juga menjadi magnet wisata edukatif yang dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi tanpa mengorbankan nilai luhur. Dengan sinergi antara komunitas, pemerintah, dan masyarakat luas, harapannya jejak langkah mereka akan terus terpatri pada setiap sudut hutan, menjaga warisan budaya tetap hidup bagi generasi mendatang.